<< Artikel Mempertanyakan Kembali Idealisme Para Penulis (Muda)  >>

Mempertanyakan Kembali Idealisme Para Penulis (Muda)

E-mail Cetak PDF

MEMPERTANYAKAN KEMBALI IDEALISME PARA PENULIS (MUDA)
Oleh: Renosta

 

      "Berusaha dan berkarya demi kesenangan saja adalah bodoh dan sungguh kekanak-kanakan."
     (Aristoteles, Ethica Nichomachea)

  
Sesungguhnya pertanyaan mendasar perlu diajukan kepada para penulis (muda) atau pun mereka yang menetapkan pilihan hidup menjadi seorang penulis.

Apa alasan mereka menulis? Sebagian orang menjawabnya hanya sebagai hobi. Ada juga yang menjawab hanya untuk menghilangkan kejenuhan. Sebagian lagi menulis hanyalah sekadar untuk mengisi waktu luang atau mencari kesenangan. Yang sedikit lebih populer (mungkin) menulis sebagai sarana menuangkan ide atau gagasan.

Tidak ada salahnya alasan-alasan di atas dikemukakan para penulis atau calon penulis sebagai motif kegiatan tulis menulisnya. Namun sangat disayangkan sekali motivasi mereka (bagi yang memantapkan niat menjalani pilihan hidup sebagai penulis) sebab hanya menguras dan membuang-buang energi saja. Hal ini lah yang pernah menjadi kegelisahan Paus Sastra Indonesia, H.B. Jassin, tatkala para pengarang (sastrawan) kita menulis hanya sebatas mencari kesenangan belaka.

“Sebetulnya yang dimiliki pengarang kita hanya sebatas bakat. Ada kesenangan, lantas menulis, kemudian mencari pekerjaan yang cocok dengan dirinya, misalnya wartawan. Apa ada tujuannya? Sebetulnya tidak ada tujuan yang terlalu serius. Dia hanya mengembangkan dirinya.” (H.B. Jassin, Majalah Prisma No. 8/1998).

Seperti dikatakan Joni Ariadinata, salah satu redaktur majalah sastra Horison, tudingan ini tidak hanya sekadar tudingan. Jassin menyertakan bukti-bukti konkret tak adanya lagi karya besar yang lahir dan dapat mengubah sesuatu. Untuk apa menulis sesuatu yang tak ada hasilnya, kalau hanya untuk kesenangan dirinya sendiri?

Tak ada tempat di mana pun yang steril dari persoalan. Baik sosial, politik, agama, kebudayaan, kemanusiaan, semuanya terus berkembang dan senantiasa berbenturan. Dan karya tulis yang baik harus senantiasa terlibat mewarnai, bahkan dituntut menjadi lokomotif perubahan atau pencerahan. Sebab kelak apa yang mereka tuliskan dan akhirnya dipublikasikan, akan menjadi sebuah bentuk pertanggung jawaban moral terhadap publik (pembaca) yang mengapresiasi karya tulis tersebut. Inilah yang mengindikasikan harus lahirnya sebuah idealisme dalam menulis.

Menulis adalah sebuah laku misi sekaligus moral. Di dalamnya harus menghadirkan ruh atau spirit perubahan terhadap pembaca. Spirit tulisan yang akan menjadi bacaan harus bisa mengena di hati pembaca sebagai suatu pencerahan baru.

Ada benarnya yang dikatakan Irvan Nugraha, seorang Penggiat Perbukuan dan Taman Baca Bandung dalam sebuah diskusi kepenulisan di Taman Baca Garasi, bahwa menulis adalah ibarat makhluk hidup yang tak bisa melahirkan sesuatu tanpa adanya ruh. Ruh di sini dalam artian “sesuatu” yang lahir dari idelaisme penulis dalam menghadirkan sebuah karya tulis. Senada seperti yang diungkapkan  Promoedya Ananta Toer, kalau karya kita adalah anak-anak rohani kita. Nah bagaimana anak rohani itu akan lahir kalau yang melahirkannya (penulis) tidak memiliki ruh (misi idealisme).

Sebuah tulisan akan tetap dikenang dan tak lekang waktu dalam perbincangan jikalau tulisan tersebut memiliki spirit effect yang besar terhadap masyarakat banyak. Namun ukuran sebuah kualitas karya tidak bisa ditentukan semata-mata oleh tuntutan pasar. Bisa saja karya tulis idealis mendapatkan hasil yang kurang menggembirakan di pasaran, namun sesungguhnya ia memberikan energi yang luar biasa terhadap perkembangan kemajuan masyarakatnya. Atau menjadi referensi besar terhadap nilai-nilai moral masyarakat.

Seperti halnya kesusastraan, lihatlah tradisi yang berkembang di Eropa sejak kurun 1600-an. Paris sebagai jantung peradaban Eropa, telah terbiasa menciptakan budaya di mana para bangsawan terdidik di kota itu kerap membuka istana-istananya untuk kegiatan sastra. Istilah salon litteraire, yakni tempat berkumpulnya para pengarang untuk mendiskusikan berbagai persoalan di rumah-rumah istana para bangsawan, amat marak dan menjadikannya prestise tersendiri. Berbagai persoalan politik, sosial, filsafat, kebudayaan, atau agama diperbincangkan dalam dikusi dan debat yang keras di antara para penulis.

Bahkan hingga kerap melahirkan ide-ide radikal, misalnya pemberontakan terhadap penguasa, kadang berawal dari forum–forum ini. Hingga akhirnya banyak di antara penulis penulisnya yang diasingkan bertahun-tahun oleh pihak penguasa (Napoleon Bonaparte). Para pennulis legendaries yang lahir dari tradisi ini diantaranya seperti Voltaire, Victor Hugo, Diderot, Juliette Recamier, dan lain sebagainya. Puluhan karya mereka lahir dan banyak mempengaruhi serta menentukan sejarah sastra modern hingga sekarang.

Oleh karenanya akan berbeda, menulis yang lahir dari idealisme mengubah sesuatu dangan menulis yang hanya mengisi kekosongan semata. Karena menulis tidak berangkat dari ruang yang kosong. Ia adalah sebuah bentuk pergulatan batin, fikiran dan tumbuhnya gagasan yang kelak akan dibaca oleh publik sebagai bagian dari perubahan sekaligus pencerahan.

Lebih baik lupakan cita-cita menjadi seorang penulis atau pengarang bagi yang bermental separuh dan tak berkeinginan untuk mengembangkan dirinya lantas memberikan pencerahan (melalui tulisan). Menulis ala kadarnya akan menghasilkan karya yang sekadarnya pula.

Teringat ucapan keras filsuf besar Aristoteles dalam Ethica Nichomachea terkait kegiatan menulis yang hanya sebatas kesenangan belaka, bahwa “berusaha dan berkarya demi kesenangan saja adalah bodoh dan sungguh kekanak-kanakkan.”<I>


Comments 

 
+2 #1 pranapita nur annisa 2010-06-22 05:01
Dari dulu, polemik soal yang satu ini tidak pernah berakhir.
Seni untuk seni atau seni untuk ideologi.
Masing-masing punya argumentasinya sendiri.
Jadi, silakan saja mau memilih aliran yang mana.
Seni untuk seni, bagus! Dari sana manusia bereksplorasi penuh untuk estetika (baik-buruk)
Seni untuk ideologi, bagus! Dari sana manusia bereksplorasi penuh untuk etika (benar-salah)
Lha, kalau sudah begitu, apa bedanya? Antara Estetika dan Etika jaraknya sangat tipis.
 
Joomlart