ANYTHING FOR YOU
Oleh: Jama'atun Rohmah
Tio sedang santai di depan TV dengan hanya mengenakan kaos tim sepak bola Spanyol yang dibelikan ayahnya waktu piala dunia kemarin dan celana pendek, punggungnya bersandar pada kaki sofa. Dia belum mandi padahal sudah hampir jam 5. Dia biasanya menunggu ibunya mengomel panjang lebar kali tinggi barulah akan menyeret kaki-kakinya dengan malas menuju kamar mandi. Di sofa, ayahnya tengah duduk sambil membaca koran pagi yang belum sempat dibacanya. Pria 40 tahunan yang masih tampak sehat itu kemudian meletakkan korannya di atas meja.
“Yo, kamu nanti gantikan ayah kenduri di rumah tetangga baru kita, ya?”
Tio tidak menyahut.
“Tio kamu dengar ayah tidak?”
“Kok aku sih, Yah? Aku kan masih kecil” Tio menjawab dengan ekspresi wajah enggan. “Aku nggak mau ngumpul dengan bapak-bapak,” Katanya lagi, padahal kalau ada acara nobar pertandingan bola dia juga sering kumpul dengan bapak-bapak sekompleksnya yang sama-sama gila bola. Dan mereka kalau sudah menonton pertandingan sama sekali tidak ada yang ingat umur atau siapa lebih tua dari siapa.
“Kecil dilihat dari sedotan?” Tanya ayah kalem. Ayahnya memang punya selera humor tinggi, dalam hal apa pun. Kadang-kadang Tio tidak tahu apakah ayahnya sedang bercanda atau serius.
“Kamu itu sudah 18 tahun. Sudah punya KTP, punya SIM. Itu artinya kamu sudah dewasa.” Sambungnya. Itu benar. Orang dinilai dewasa kalau dia sudah berumur 17 tahun atau sudah menikah. Melihat umur Tio yang sudah 18 tahun sekarang, itu artinya Tio sudah dewasa sejak setahun lalu. Bagaimana bisa dia tidak menyadarinya? Fisiknya juga berubah di sana sini.
“Tapi, Yah. Kenduri itu kan untuk orang-orang seumuran ayah.” Tio tetap ingin berkelit. Ide ayah menyuruhnya ikut kenduri itu sama sekali tidak menarik minatnya.
“Nanti malam ayah mau nganter ibumu untuk melihat temannya yang baru melahirkan. Ngga enak kalau sampai kita tidak datang ke rumah tetangga baru kita, Yo.”
“Aku juga ada janji dengan Ega, penting banget, Yah.” Kata Tio tidak mau kalah. Dia mengatakan itu dengan mata berbinar-binar penuh semangat seakan-akan urusannya jauh lebih penting daripada urusan ayahnya. Padahal setiap kali bertemu Ega mereka hanya akan main PS atau basket. Ega terlalu serius untuk Tio. Jadi mereka jarang membahas sesuatu kecuali yang berhubungan dengan sekolah atau hobi mereka.
“Ya sudah kalau begitu uang sakumu bulan depan akan ayah pakai untuk membayar taxi aja. Biar nanti ibu ke rumah temannya naik taksi.”
Spontan binar ceria di mata Tio jadi redup. Seperti lampu neon 100 watt yang mendadak terkena pemadaman lampu permanen dari PLN. Ucapan ayahnya tadi berarti bulan depan uang sakunya dipotong. Ini adalah bentuk intimidasi secara halus. Dulu dia juga pernah mendapat hukuman seperti itu gara-gara melanggar jam malam selama 3 kali berturut-turut. Beruntung waktu itu masih ada Tante Mika, adik ibunya yang mau dimintai sumbangan uang saku selama sebulan jadi dia terbebas dari kebangkrutan. Tapi saat ini Tante Mika sedang di luar negeri untuk kuliah S2. Tantenya itu mendapatkan beasiswa dari pemerintah Korea Selatan.
Tio menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. Dia sedang memikirkan cara lain untuk menghindarkan dirinya dari keharusan ikut kenduri sekaligus membebaskan dirinya dari ancaman pemotongan uang saku.
Ting.. tong..!
Terdengar bunyi bel pintu dari luar. Ayah memberi isyarat dengan gerakan kepalanya untuk menyuruh Tio membuka pintu. Dan dia tidak punya pilihan lain, dari pada nanti ayahnya memberinya sanksi lain. Tio mengeluh dalam hati. Dia paling bete kalau ada tamu sore-sore begini. Paling yang datang adalah ibu-ibu tetangga yang akan mengajak ibunya bergosip. Padahal gosip – gosip itu sama sekali tidak penting. Masa ada orang beli TV plasma baru aja digosipkan, seperti tidak pernah melihat TV saja.
Tapi dugaannya salah. Begitu pintu terbuka yang dia lihat adalah sesosok makhluk perempuan yang sangat dia impikan selama ini, Indah. Dia telihat manis dan feminin dengan rambut lurusnya yang diikat dengan karet pita ungu. Warnanya senada dengan kardigan dan mini dress motif bunganya. Gadis itu tersenyum tapi tidak lama. Senyumannya semanis sirup cocopandan buatan ibunya.
“Indah. Tumben kamu ke sini. Kamu sudah putus dengan Aan, ya?” sapanya dengan bersemangat. Tangannya yang satu masih memegang gagang pintu. Pertanyaan yang aneh, kan baru seminggu lalu dia melihat dengan mata kepala sendiri kalau Indah dijemput oleh Aan sepulang sekolah.
Indah juga sama terkejutnya. Tidak menyangka akan bertemu Tio di sini. Tio memang sudah pindah dari rumahnya yang lama, begitu juga Indah, tapi dia tidak tahu kalau Tio pindahnya ke sini. Mereka dulu bertetangga. Kelas 5 SD keluarga Indah pindah rumah. Tahun ajaran baru lalu mereka bertemu lagi dan bersekolah di SMA yang sama. Sayangnya kini Indah sudah menjadi kekasih Aan, seorang mahasiswa IT yang udah duduk di semester 3. Indah pernah mengatakan pada Tio kalau alasannya memilih Aan adalah karena usianya lebih tua. Dia menginginkan cowok yang lebih dewasa darinya, seperti Aan. Dan itu sempat mematikan semangatnya. Bagaimana pun Tio berusaha dia tidak akan pernah bisa menyaingi Aan dalam hal ini. Sudah jelas kalau Aan lahir lebih dulu darinya, jadi sampai kiamat pun Tio tidak akan bisa berusia lebih tua dari Aan.
Dia menggeleng. “Ngga. Aku cuma mau bantu temanku yang kebetulan baru pindah ke kompleks ini. Ini untuk ibu kamu, dari tetangga baru yang rumahnya di ujung kompleks sana.” Indah menyerahkan sebuah piring mika berisi beberapa macam kue basah buatan rumah pada Tio. Tio menerimanya tanpa mengalihkan pandangannya pada si pemberi.
“Kamu ngga mau ketemu ibu dan ayah dulu? Mereka kadang-kadang menanyakanmu.” Kalau yang ini Tio tidak berbohong. Kedua orangtuanya memang kadang-kadang menanyakan kabar Indah setelah mereka tahu Indah satu sekolah lagi dengan Tio.
Indah menggeleng lagi. “Nggak, mungkin lain kali aja. Aku harus bantu – bantu di sana, banyak yang harus aku kerjakan untuk persiapan kenduri nanti malam. Salam aja untuk om dan tante.”
Tio agak kecewa mendengarnya tapi dia mengangguk juga.
“Oh, ya. Jangan lupa nanti om diingatkan untuk ikut kenduri, ya.”
Tio mengangguk lagi, tapi kali ini tanpa sadar. Dia bahkan masih saja bengong dan tidak mengucapkan terima kasih ketika gadis itu sudah berlalu meninggalkan halaman rumahnya. Dia baru tersadar setelah mendengar suara ibunya dari dalam rumah memanggil-manggil namanya.
Tio masuk ke ruang tengah sambil tersenyum-senyum sendiri. Jadi Indah akan ada di rumah baru itu malam ini. Itu membuat hatinya berbunga – bunga dan harapannya melambung tinggi. Setelah meletakkan piring itu di meja kecil di samping sofa, dia lalu berkata pada ayahnya.
“Yah, bener nggak sih aku ini sudah dewasa seperti yang ayah bilang tadi?” tanyanya dengan antusias. Ayah memandangnya heran. Beliau meletakkan korannya di atas sofa di sampingnya.
“Dewasa? Ya tergantung dilihat dari sisi mana.”
“Memangnya dewasa ada macam-macam versi, ya?”
Ayah mengangguk. Tio semakin mendekatinya. “Misalnya apa saja?”
“Usiamu sekarang sudah 18 tahun, secara hukum kamu sudah disebut dewasa. Sudah boleh memiliki KTP, sudah boleh mengikuti pemilu, sudah boleh memutuskan sesuatu tanpa persetujuan orang tua, sudah boleh merokok…”
“Tapi kamu jangan coba-coba merokok kalau tidak mau berhadapan dengan ibu,” ibu yang ada di dekat situ mengancamnya dengan tatapan yang lebih berbahaya daripada seringaian singa lapar. Tio mengkerut. Sejujurnya dia sudah pernah merokok sebelum usianya 17 tahun, tapi dia hanya sekali itu saja karena rasanya tidak enak dan dia sampai diare berhari-hari. Dia tidak mengaku pada orangtuanya tapi sudah berjanji dalam hati untuk tidak akan menyentuh barang itu lagi.
“Nggak, Bu. Aku nggak akan merokok lagi,” Katanya dan mendadak dia menyesali ucapannya. Ibunya masih menatapnya. Untung ayahnya menengahi. “Nggak apa-apa sesekali merokok asal jangan jadi kebiasaan.” Lalu dia beralih pada ibu.
“Tidak apa-apa, bu. Kalau sudah tahu rasanya kan dia pasti mikir juga, masa dia rela menghabiskan uangnya melayang untuk membeli rokok,”
“Lalu apa lagi, Yah?”
“Hmm.. kamu juga sudah boleh bepergian ke luar negeri tanpa didampingi oleh orangtua.”
Ke luar negeri dari Hongkong? Tio mana punya duit buat ke luar negeri? Mana mungkin juga orangtuanya memberinya duit untuk ke luar negeri hanya karena usianya sudah dianggap dewasa. Mau ikut teman – temannya ke Rinjani aja dia harus menabung berbulan – bulan. Ya... walau pun uang yang ditabung itu juga pemberian orangtuanya sih. Ah... dasar Tio.
“Itu hanya perumpamaan saja, Nak. Yang jelas kamu sudah dianggap bisa bertanggung jawab atas dirimu sendiri,”
”Begitu ya?”
”Tapi kalau di keluarga besar kita tetap saja kamu masih dianggap anak – anak karena masih SMA. Kamu juga belum boleh menikah karena usia menikah itu minimal 25 tahun,”
Tio mengangguk-angguk. Ternyata itu yang dimaksud dewasa. Lalu dia membandingkan dirinya dengan Aan. Apa yang dimiliki Aan dan yang tidak dia miliki selain mobil dan lahir 2 tahun lebih dulu darinya?
“Dewasa berarti boleh minta dibelikan mobil juga?” dia bertanya dengan polosnya. Ayah dan ibunya saling berpandangan heran. Teori dari mana yang mengatakan dewasa berarti boleh minta dibelikan mobil? Ayahnya saja hanya punya 1 mobil dan itu beliau beli bertahun – tahun setelah bekerja sendiri.
“Ngga apa-apa. Hanya bertanya saja kok,”
“Dewasa itu lebih ke sikap bijaksana dalam hidup, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kekayaan atau usia.” kata Ayah kemudian.
“Ok deh kalau begitu nanti malam aku aja yang ikutan kenduri di rumah tetangga baru kita.”
Ayah yang kini duduk di karpet di bawah sofa bersama ibunya itu mengerutkan keningnya. Tadi saja dia menolak mentah-mentah, sekarang malah mengajukan diri. Itu bukan sifat Tio. Dia itu konsisten. Kalau ngambek ya ngambek terus sampai capek. Dan biasanya itu berlangsung berhari-hari, bukan hanya dalam hitungan menit seperti ini.
“Beneran kok, Yah.”
“Hmm…” ibu menatapnya dengan pandangan curiga, ayah jadi ikut-ikutan memandangnya curiga juga. Tio jadi sedikit kesal dipandangi seperti itu oleh kedua orangtuanya.
”Asli ayah, ibu... aku ikhlas kok ikut kenduri. Ngga percaya amat sih?” Katanya dengan wajah cemberut.
“Siapa yang mengantarkan kue tadi?” Tanya ibu.
Tio menunduk, wajahnya memerah. “Indah,”
Dan kedua orangtuanya langsung meledak tertawa. Mereka tahu Tio jatuh cinta pada Indah bahkan sejak masih TK. Tio tidak pernah menyembunyikan itu dari kedua orangtuanya. Hanya saja mereka tidak menyangka kalau Tio mau melakukan apa saja demi Indah. Tapi bagus juga, setidaknya Tio berusaha untuk menjadi dewasa agar bisa mendapatkan cintanya.
“Indah, aku akan menjadi laki-laki dewasa seperti yang kamu inginkan. I’ll make you fall in love with me.” Tio bersenandung kecil sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Malam harinya bersama-sama dengan bapak-bapak sekompleks Tio ikut datang ke rumah tetangga barunya. Kalau yang lain mempunyai tujuan mulia untuk menghadiri acara silaturahmi dengan tetangga baru. Maka Tio juga mempunyai tujuan yang menurutnya jauh lebih mulia yaitu untuk menemui Indah dan membuktikan padanya bahwa dia juga sudah dewasa, tidak kalah dengan Aan pacar Indah sekarang.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Anything for You



































