<< Artikel Emosi Sesaat...  >>

Emosi Sesaat...

E-mail Cetak PDF

Emosi Sesaat
Oleh: Kusriati

Setiap manusia pasti memiliki emosi. Emosi banyak ragamnya dan bermacam pula cara pengungkapannya, dari yang tertawa karena senang sampai menangis karena sedih. Emosi, juga bisa disembunyikan. Itu sudah pasti. Tak semua yang kita rasakan harus di visualisasikan secara jelas dan nyata kan? Misalnya, saja ketika kita kesal dan marah dengan atasan kita, tak mungkin juga saat itu kita melampiaskan kekesalan kita. Bisa gawat untuk kelanjutan karir dan reputasi kita :) Yang ini, kita harus menyembunyikan dengan rapat, terkadang di balik senyum kecut nan palsu

Dalam keadaan tertentu juga visualisasi dari emosi seseorang sangat diharapkan. Misalnya, pada pemakaman seseorang. Tak mungkin keluarga dekat dari orang tersebut mengharapkan orang yang hadir tertawa dan bersuka ria, meski pada saat itu sebagian orang yang hadir sebetulnya dalam emosi yang gembira. Tentu visualisasi emosi yang diinginkan adalah raut sedih dan duka mendalam sebagai wujud bahwa mereka turut berbelasungkawa. Atau juga ketika  menerima sesuatu dari seseorang, misalnya kado. Visualisasi yang diharapkan dari si penerima tentu ekspresi yang menyenangkan, pun sebetulnya dia dalam keadaan berduka.

Menyembunyikan emosi itu tak ada salahnya, bahkan terkadang menguntungkan. Kalau kita terus menerus mengekspresikan apa yang menjadi emosi kita saat itu juga, wah bisa-bisa RSJ tak mampu lagi menampung orang-orang yang tak dapat menahan emosi dan penjara pasti overload karena banyak terjadi kekacauan dan psikiater pun akan kewalahan menangani begitu banyak pasiennya.

Seringkali kita mendengar kata-kata seperti ini dari seseorang :
“Maaf… aku tadi lepas kendali, tapi lupakan saja kalau aku pernah mengatakan sesuatu yang menyakitkan…” atau “ Tadi aku tak dapat menahan emosiku…” juga “ kalau sudah kuungkapkan, aku akan lega…”

Sebetulnya, meski orang yang bersangkutan sudah minta maaf dan kita memaafkan, gemes rasanya mengingat dia juga mempermainkan emosi kita kala mengucapkan/melakukan tindakan yang tak berkenan. Tapi kalau kita ikut terbawa emosi yang tak menyenangkan, itu sama saja terpancing dalam kekeruhan suasana.

Jadi, seringkali memang kita harus read between the lines… mencoba mengartikan emosi seseorang yang tak menyenangkan dari segi baiknya. Siapa tahu, itu memang baik untuk kita, setidaknya mencoba menahan diri untuk tak terbawa emosi juga awal yang menyenangkan.


 

 

Joomlart