<< Cerpen Berita Tengah Malam  >>

Berita Tengah Malam

E-mail Cetak PDF
 

Berita Tengah Malam
Oleh: Inraini Fitria Syah

 

Perempuan tua itu terbaring resah. Raut wajahnya menyiratkan sakit yang sangat. Belum sampai lima menit berbaring, perempuan itu sudah menggapai-gapaikan tangannya ke atas. Menandakan dia meminta bantuan untuk duduk. Suaranya terdengar begitu parau, mengeluarkan bunyi yang cukup sulit  untuk dimengerti. Sementara matanya nanar menatap ke depan.

Umak. Begitu biasanya semua anak dan menantunya memanggil. Usianya sudah delapan puluhan lebih. Bahkan ada yang mengatakan Umak sudah berumur lebih dari seratus tahun. Umak punya sembilan anak dari perkawinan pertamanya dan enam anak dari perkawinan kedua. Cucu dan cicitnya sudah begitu banyak, hingga Umak kadang tak mengenali cucu dan cicitnya sendiri. Dan aku, aku ditakdirkan sebagai menantu Umak, istri dari anak bungsunya yang juga satu-satunya anak lelaki Umak yang tersisa. Sebenarnya anak lelaki Umak ada empat orang. Dua di antaranya meninggal ketika Balita. Dan yang satunya lagi baru meninggal beberapa waktu yang lalu. Sejak meninggalnya Uda Hasan inilah Umak jadi sakit-sakitan.

Senja merangkak ke malam. Dingin terasa menguap di ruangan mewah 8x6 meter ini, tersingkir oleh hawa ketegangan yang bergayut dalam pikiran semua yang hadir di kamar ini.

 Kondisi Umak tak berubah. Duduk, tidur, duduk, tidur, kemudian mengerang dengan suara yang tercekat di kerongkongan, memanggil nama anak-anaknya. Umak juga punya rindu, rindu yang merana. Sudah dua bulan memang, Umak tak dikunjungi tiga kesayangannya yang lain. Sesekali tangan Umak yang keriput dan begitu kurus, meremas kepalanya.

"Kapalo Umak, tolong kapalo Umak,San", begitu desisnya. Pelan, hampir tak terdengar. Cekatan, suamiku menggapai kepala ibundanya dan memijitnya penuh kasih sayang.

" Ini Husein Mak, Umak mangucaplah, Sebut nama Allah. Jan berpikir yang macam-macam. Laa ilahailallah"

"Laa ilahailallah"

"Laa ilahailallah"

"Laa ilahailallah"

Penuh kelembutan dan kesabaran suamiku menuntun Umak membaca asma Allah. Dan perlahan, Umak mulai mengikutinya.

" Laa ilahailallah "

" Husein, hubungilah uni-uni kamu yang lain. Telpon sekarang juga, bilang Umak sakit keras, dan ingin bertemu mereka sekarang juga. " Uni Lis, kakak tertua suamiku yang sekandung, yang sejak tadi berdiam diri tiba-tiba angkat bicara. Maksudnya dengan Uni-uni yang lain adalah tiga orang kakak suamiku yang lain. Tiga anak Umak.

" Baiklah Ni, pinjam telponnya."

" Ke wartel sajalah Sein." Jawab Ni Lis tanpa penjelasan, padahal Ni Lis punya telpon rumah dan juga handphone.

" Baik Ni", suamiku menurut. Walaupun aku tahu hatinya berat. Bukan Karena jika menelepon ke wartel suamiku harus merogoh kantong sendiri yang isinya memang tidak seberapa, tetapi lebih karena harus meninggalkan Umak.

" Ayo Rit, temani Uda, mudah-mudahan masih ada wartel yang buka ". Umak mengawasi kepergian kami dengan tatap yang tak jelas. Walaupun Umak sudah berusia sangat lanjut, tapi Umak masih tajam penglihatan dan juga daya ingatnya. Ada pandang keberatan di matanya, seakan tak rela Da Husein meninggalkannya barang sebentar.

" Terus sebut asma Allah ya Mak", bisik Da Husein sebelum pergi. Umak mengangguk samar.

" Laa ilahailallah "

Malam telah menunjukkan pukul dua belas kurang sepuluh menit.

" Maaf Rit, aku tahu uang yang kuminta darimu untuk mencukupi biaya telpon interlokal tadi sengaja kau simpan untuk membeli seragam baru buat anak kita." Kata Da Husein suamiku penuh penyesalan, sepulang dari wartel menuju rumah Ni Lis.

" Tidak apa Da, nanti Insya Allah, rezeki kita ada lagi." Terbayang di benakku empat prajurit kecilku yang selalu kelihatan kumal bila ke sekolah, maklum seragam yang mereka kenakan tidak pernah diganti sejak dua tahun yang lalu. Tapi tak apalah, aku mencoba membesarkan hati. Situasi ini lebih penting, dari sekedar seragam buat anak-anakku.

" Oya, bagaimana, apa kata Ni Rum, Ni Jus, dan Ni Fat ? Kapan mereka pulang ?" tanyaku setelah hening tercipta beberapa jenak. Suamiku terlihat murung.

" Ni Rum sibuk. Pasiennya sedang banyak-banyaknya. Bahkan sudah semalam ini, Ni Rum masih menangani pasien. Ni Rum pesan, Umak harus di bawa ke rumah sakit malam ini juga. Besok Ni Rum transfer dana buat biaya rawatan Umak."

" Ni Jus ? "

" Ni Jus besok pagi ada meeting penting di kantornya. Kata Ni Jus semua terserah Ni Rum saja. Mungkin satu atau dua minggu lagi baru Ni Jus bisa pulang. Salam buat Umak, katanya."

" Ni Fat ?"

" Aku tak sempat bicara dengan Ni Fat. Handphonenya tidak aktif. Waktu aku telpon ke rumahnya, kata pembantunya Ni Fat sudah tidur dan tak mau diganggu."

" Oooooo" gumamku sedih. Sedih yang entah beralamat buat siapa.

Berita sakit kerasnya Umak, ternyata bukan suatu yang luar biasa buat mereka, Umak memang sudah sering sakit-sakitan. Tapi aku juga tak bisa menyalahkan saudara-saudara suamiku itu. Di samping tempat tinggal mereka yang berlainan kota dengan kami, keseharian yang penuh kesibukan tentu juga merupakan alasan mengapa mereka jarang menengok Umak.

 Ni Rum yang seorang dokter terkenal, tentu punya tanggung jawab besar terhadap profesinya. Begitu juga Ni Jus yang menduduki jabatan sebagai kepala bagian pada sebuah perusahaan milik Negara,  terikat disiplin dan jadwal kerja. Dan Ni Fat, pekerjaan dan aktifitas yang menguras energi fisik dan mental, tentu membuatnya membutuhkan waktu istirahat yang bebas gangguan. Maklum, Ni Fat yang pengacara dan juga aktif dalam mengurus berbagai yayasan serta LBH, hampir tak punya waktu bersantai. Dering telpon dan SMS dari mereka yang membutuhkan jasanya sering sekali mengganggu jam rehatnya yang singkat. Tapi, sebegitunyakah mereka, sampai-sampai berita yang disampaikan suamiku tak menggerakkan hati mereka untuk pulang. Sekedar menjenguk Umak, ibu mereka sendiri, barang dua atau tiga jam? Tokh jarak bukan masalah, mereka semua punya kendaraan pribadi. Entahlah.

Aroma bunga-bungaan menyentakkan lamunanku. Rumah megah milik Ni Lis ini memang penuh dengan bunga beraneka rupa dan warna. Terlihat ironis bila dibandingkan dengan rumah kami yang tepat berada di sebelahnya. Tak ada bunga, tak ada yang megah. Da Husein hanya seorang guru SD honorer. Dari mengumpulkan gajinya yang sedikit dan hasil penjualan kue yang kubuat, sedikit demi sedikit rumah ini kami bangun. Kecil, namun cukup untuk kami dan empat buah hati kami. Aku sendiri tak pernah punya waktu lebih untuk menghiasi rumah mungil kami dengan bunga. Tiap detil hariku habis untuk bekerja menopang ekonomi keluargaku. Kalaupun ada saat yang tersisa, kupakai untuk menemani Umak. Sekedar duduk mendengarkan cerita beliau tentang masa lalunya atau pantun-pantun lamanya yang penuh petuah. Begitulah, jika disandingkan dengan rumah Ni Lis, sungguh jauh.

Pintu rumah Ni Lis terbuka,

"Bagaimana Umak ?" Tanya suamiku.

"Tidur." Jawab Ni Lis singkat.

"Oh... syukurlah Umak sudah bisa istirahat", suamiku lega.

"Bagaimana? Kapan mereka pulang?" Tanya Ni Lis tak sabaran. Suamiku diam mendapat pertanyaan seperti itu.

"Kita diminta membawa Umak ke rumah sakit."

"Biayanya?" mata Ni Lis mendelik.

"Nanti Ni Rum transfer ke rekening Uni."

"Huh!" Ni Lis mendengus.

"Rum itu, selalu saja begitu. Sedikit-sedikit rumah sakit. Sedikit-sedikit rumah sakit. Dia pikir semuanya selesai dengan membawa Umak ke rumah sakit! Siapa, siapa yang akan menunggui Umak di rumah sakit ? Memangnya Cuma dia yang sibuk !" suara Ni Lis terdengar meninggi.

"Sudahlah Ni, nanti biar aku dan istriku yang menunggui".

"Trus Si Jus, Si Fatimah? Juga tidak bisa pulang?"Tanya Ni Lis sengit.

"Iya Nii" jawab suamiku tertunduk. Seakan dia yang bersalah akan keadaan ini.

"Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Kamu Rit, kemasi barang-barang Umak yang perlu dibawa ke rumah sakit. Pilih baju dan kain yang bagus. Dan kamu Sein, beritahu Umak, kita akan membawanya ke rumah sakit", perintah Ni Lis.

Perlahan, Da Husein membuka kamar Umak, Umak terlihat tidur. Mungkin dengan mimpi yang indah. Mimpi tentang bocah-bocah kecilnya. Mimpi tentang bocah-bocah tersayang yang dibesarkan penuh cinta dan perjuangan. Mimpi tentang bocah-bocahnya dulu. Dulu sekali. Ada senyum di bibirnya yang tua. Paras sakit dan keberatan ketika kami tinggalkan tadi menguap entah ke mana.

Da Husein mendekati Umak. Mengecup perlahan keningnya yang keriput. Seakan tak tega membangunkan Umak, Da Husein berbisik perlahan di telinga Umak,

"Mak, kita ke rumah sakit ya..."

Tak ada reaksi. Umak tetap tidur. Umak tetap senyum dalam tidur. Da Husein mengulang.

"Mak...", diam. Umak tetap diam dalam senyum. Mungkin senyum tentang bocah-bocahnya. Bocah-bocah yang selalu dia tidurkan dengan ciuman di kening mereka masing-masing.

"Mak..." ulang Da Husein. Diam, diam dengan senyum yang cantik di wajah tuanya.

Gemetar, Da Husein meraba nadi Umak, mendekatkan telinganya ke dada Umak.

Erat dan lama... Da Husein memeluk Umak. . Berganti memelukku Keheningan menguasai suasana.

"Umak sudah berpulang Rita", bisik Da Husein dengan mata basah.

Innalillahi wainna ilahi rojiun.

Uni Lis histeris. Tangisnya tak henti walau dihibur suami dan anak-anaknya. Ketika dihubungi, Ni Rum lebih histeris lagi, terbata-bata Ni Rum menyalahkan Da Husein yang tak segera membawa Umak ke rumah sakit. Uni Jusma pingsan saat mendengar kabar tersebut. Dan Ni Fat? Kata pembantunya,

"Coba telpon lagi besok pagi, nyonya masih tidur, belum bisa diganggu."

                                                                                                                Pasinggrahan, Mei 2006

 

 

Umak                                      :Ibu

Uda                                         :Panggilan untuk laki-laki yang  lebih dituakan, suami,kakak. 

Uni                                          :Kakak Perempuan

Mangucaplah                       :Mengucaplah

Jan                                          :Jangan

 

Joomlart