TRAGEDIKU
CINTA
KAN
SAYANG
MANIS
PAHIT
GETIR
SESAK
MENGKERAK
BOSAN
GANTI
SELINGKUH
MERAH
BIRU
BERDERET
MENYERET
KEMBALI
CINTA
DATANG
GOMBAL
BUNGKAM
MATI
TERLILIT
SAKIT
TERLONTA
Aku adalah jiwa yang merona
Aku adalah jiwa yang terlonta
Aku adalah jiwa yang melata
Aku adalah jiwa yang sengsara
Saat kau tak anggap aku
Saat kau tak perdulikan diriku
Kau anggap apa aku
Angin layu
Yang berhembus di sampingmu
Tak sekatapun yang terucap di bibir
Hanya senyum sinis tanpa akhir
Pandangmu semu masih terukir
Di benakku tergulir
Tak sadarkah sikapmu
Telah membakar cintaku
Banyak hal yang harus kau tahu
Tentang puisiku
Tapi....
Percuma semua hilang
Dalam lamunku
MENCOBA MEMAHAMI
Takkan terfikir olehku
Tentang arti hidupku
Lalu lintang di langit semu
Cahaya menyilau langit ke tujuh
Terlalu lama berlalu
Tanpa ada sesuatu
Membuatku pilu
Ingin terus melaju
Mencapai kemandirianku
Yang masih terlihat kelu
Termenung olehku....
Akan jati diriku
Menemukan kepastian yang tak tentu
Apa arti dari sebuah kemandirian
Kau tak tahu
Apa arti dari sebuah kehidupan
Kau tak tahu
Apa arti dari sebuah kematian
Kau tak tahu
Terus apa yang kau tahu....
Apakah kau menginginkanku
Tersesat selalu
Kau tetap diam
Melihatku
Saat hati termenung dalam sepi
Tiada sekarang yang berarti
Hilang, Kelam, Musnah tanpa arti
Inginku jalani titah hidup ini
Kadang hanya bayang datang
Terlihat samar oleh angan
Ingin diri ini sampai ke awang
Tak kuasa tertahan dalam bayang
Ku tau hidup penuh uji
Tanpa dirimu taklah berarti
Demi rasa sepi
Yang kan ku abadikan dalam mimpi
PENA
Di kala hati berkata
Terungkap seribu kata
Terasa hingga sukma
Terurai sejuta makna
Mampukah ku terus berkarya
Mengasah cipta
Agar menghasilkan mutiara
Pena telah di tanganku
Menghiasi di setiap lembar baru
Terjajar tersusun di kertasku
Hingga terulang,
Berulang-ulang
TERSAYAT
Terasa penat
Menyayat bagai kilat
Panas membuat
Diriku terkucur keringat
Membasahi di setiap saat
Tak kuasa ku berbuat
Apa daya yang ku ingat
biarlah mengalir
Bagai Air
Di setiap nisan yang terukir
Ku menjerit !
Meratapi hidup yang mulai sekarat
Terasa sesak hidup di jagat
Yang penuh sesat
Kenapa harus ada perbedaan derajat
Semua insan di dunia hanyalah sesaat
Dan jangan menjadi hamba yang terlaknat
Jalan berliku kini di hadapanku
Banyak bebatuan menghadangku
Walaupun begitu
Terus melaju....
Sulitku rasakan tentang kehidupan
Banyak lika-liku di hadapkan
Bergelut di pengujung jalan
Tanpa ada rasa kasih sayang
Ragaku panas terbakar
Terdengar petir menyambar
Suara gema mengelegar
Membuatku semakin gusar
Saatku tahu
Tentang satu hal yang kau tak tahu
Tersadar olehku
Sang waktu....
Akan janji yang pernah terucap
Membuatku tergagap
Akan tetapi manakah janji itu....
Tak ada bukti menyentuhku
Tinggal hanya penantianku
Duh.... Hampa terasa
Hanya kenistapaan yang ada.
KATA HATI
Kini hatiku terasa sahdu
Anganku kini membeku
Terasa amat pilu
Saatku terbayang kan parasmu
Entah mengapa
Kau selalu ada
Membuatku hampa
Takkan bisa tiada
Kubahagia melihatmu
Tersenyum,Tersipu
Karna itu tujuan hidupku
Jangan kau, buatku
Terhanyut dalam penantianku
Tangisku kini di pipi
Telahku sesali semua yang terjadi
Tak ada yang kini ku pungkiri
Tuk berpaling ke lain hati
SENJA
Indah terasa sang senja
Tersenyum manis bersahaja
Terpana laksana
Tertancap di dada
Lentara di ujung raya
Menyinari beratnya derita
Rasa merana
Mencari di cinta
Kini ku menyelusuri
Ramainya jalan berduri
Ku hadapi
Takkan menyerah sampe nanti
Haruskahku kubur dalam
Tinggal kenangan kelam
Datanglah datang
kekasih pujaan
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Puisi-puisi Muhammad Ali Maksum *)




































