<< Cerpen Surat Angin  >>

Surat Angin

E-mail Cetak PDF

Surat Angin
Oleh: Restu Ashari Putra

 

“Aku tidak ada dalam atmosfer atau di ruang kosong langit, juga tidak ada dalam kecerdasan paling brilian sekali pun. Aku hidup lebih jelas dan lebih berguna sebagai seorang tamu dalam sanubari seorang pekerja, seorang pelayan,” Ketika itu aku seperti mendengar bebisikan, serupa nyanyian dari angkasa.

 

****

Hingga malam yang keenam puluh tepat pukul dua belas malam, aku masih belum bisa memejamkan mata. Pikiranku masih terbayang lelaki yang selalu saja menerbangkan pesawat kertas yang ia katakan sebagai surat. Saban sore ia duduk di depan tempat tinggalnya yang sederhana. Di hadapannya terbentang hamparan sawah hijau. Ricik air gemelecak, mengairi setiap petak sawah. Semilir angin meraba sekujur tubuhnya. Sesekali ia meneteskan air mata. Entah mengapa.

            “Ini surat untuk angin,” ujarnya suatu waktu. Tentu saja pernyataan itu meninggalkan banyak pertanyaan dalam benak pikiranku. Dan sayangnya, ia tak mudah untuk kuajak bercerita perihal kebiasaannya itu.

            Mungkin ia seperti penyair kesepian yang meratapi penderitaan hidupnya. Atau memang ia sedang menikmati kebahagiaan yang berbeda dari orang-orang pada umumnya. Yang pasti aku selalu melihat lelaki itu menerbangkan pesawat kertas setelah ia menuliskan kata-kata di dalamnya. Aku masih mempercayainya, yang ia tulis adalah sebuah surat.

Ia lipat kertas itu pelan-pelan menjadi sebuah pesawat seperti yang sering dibuat anak-anak sekolah TK. Lantas ia terbangkan ke udara hingga ke puncak-puncak gunung. Menyusuri sawah. Membuntuti aliran sungai. Menyapa setiap telaga. Kemudian mendarat di sebuah tanah kosong. Entah dibaca oleh siapa.

Pernah suatu waktu aku bertanya kepadanya saat ia melamun lama sekali karena pesawatnya terbang tinggi sampai menembus awan. Melayang. Namun selalu saja kembali lagi ke hadapannya.

            “Sebenarnya apa yang kau tulis dalam kertas itu, kawanku?” tanyaku penuh penasaran.

            “Banyak, banyak sekali. Tapi sepertinya kau tak perlu tahu banyak,”

            “Kalau begitu bolehlah aku tahu sedikit saja,”

            “Baiklah. Aku menulis masa lalu,”    

            Setelah ia menjawab itu aku tak berani lagi untuk bertanya lebih lanjut. Sepertinya ia sedang asyik dengan mainan barunya itu. Aku mengerti. Mungkin ia tengah curhat tentang kehidupan masa lalunya yang getir. Mungkin ia tak ingin lagi membaca hasil tulisannya setelah ia tuangkan ke dalam kertas. Oleh karenanya lebih baik ia terbangkan bersama angin dan entah dibaca siapa. Atau tidak ada seorang pun yang membacanya.

            Aku semakin dihantui rasa penasaran yang sungguh akut. Untuk apa gerangan lelaki itu menjadikan tulisannya pesawat kertas. Mengapa tidak disimpan saja dalam lemari kemudian tumpuk dengan puluhan buku. Atau bakar saja sampai benar-benar lenyap menjadi abu hingga menyatu dengan tanah. Ah, peduli amat. Suka-suka dia mau diapakan juga. Toh aku hanya kawannya yang baru dua bulan ini mengenalnya. Itu pun tidak dekat.

            Dua bungkus rokok telah habis dalam semalam. Segelas kopi sudah hampir mengering ampasnya. Namun aku selalu didera keresahan dan ribuan pertanyaan. Besok aku harus menemuinya lagi. Ada apa sebenarnya di  balik kelakuannya itu. Naluri jurnalistikku muncul. Padahal sudah tiga bulan ini aku mengundurkan diri jadi wartawan.

****

Ia tak menginginkan apa-apa kecuali semilir angin datang. Sore itu langit ranum jingga. Suara anak-anak mengaji samar terdengar dari masjid terdekat. Sepertinya marbot masjid lupa mematikan mikrofon sehabis azan ashar tadi. Lelaki itu masih asyik memandangi bentangan sawah yang hampir menguning. Ada beberapa burung terbang mengitari petak-petak sawah.

Aku cukup ragu kalau ia menderita autis. Buktinya ia begitu ramah dan familiar saat kuajak bercakap-cakap.

“Kau tak membuat pesawat kertas lagi?” tanyaku seraya duduk di sampingnya dan memandang hamparan maha karya Tuhan.

“Belum. Mungkin sebentar lagi,” tampak senyum wajahnya meski tak menoleh kepadaku.

“Kalau dipikir-pikir, sepertinya kau bahagia ya dengan menerbangkan pesawat kertas itu. Masalahnya kau kan sudah bukan anak-anak lagi,”

“Apa orang dewasa dilarang membuat pesawat-pesawatan kemudian menerbangkannya?”

“Ya, nggak juga sih. Hanya aneh saja kalau orang-orang melihat kebiasaanmu itu,”

“Itulah manusia. Mereka hanya melihat yang tampak-tampak saja. Sedikit yang bisa melihat hakikat sesungguhnya. Makanya aku kurang begitu percaya dengan anggapan manusia,”

“Oh, maaf. Aku bisa menghargai prinsipmu,”

“Tidak apa-apa,”

Tak lama kemudian ia mulai terlihat gelisah. Keningnya mengkerut. Ia seperti menangkap isyarat sesuatu. Maka diambilnya pulpen dan secarik kertas. Aku sudah bisa menduga ia tengah mempersiapkan membuat pesawat kertas.

Dengan sangat bijak ia meminta izin untuk melakukan ritualitasnya itu. Aku pun mempersilahkan. Ia diam sejenak memandang langit. Kemudian mulailah menuliskan kata-kata dalam kertasnya. Kata-kata itu berjejer menjadi rangkaian kalimat. Kalimat-kalimatnya ia susun menjadi sebuah paragraph, serupa bait. Aku hanya bisa mengintip sebagian besar catatannya. Aku tak bisa melihat detail isi tulisannya. Ini kulakukan demi menghargai kawanku itu.

Setelah ia lipat kertas tersebut menjadi sebuah pesawat. Angin tiba-tiba terasa berhembus kencang. Hembusannya bahkan hampir meruntuhkanku. Dan pesawat itu telah lepas dari tangannya. Melayang-layang di udara. Ini yang kedua kalinya pesawat kertas itu ia terbangkan. Ia berharap pesawatnya tak kembali lagi ke pangkuannya.

“Sesuatu yang telah pergi mungkin tak kan kembali, tapi bisa jadi ia akan kembali lagi,” ujarnya ketika melihat pesawat kertasnya berputar-putar di udara.

“Bagaimana kalau pesawat itu kembali lagi?”

“Aku akan membuat lagi yang baru dan menerbangkannya kembali,”

“Kenapa tak kau terbangkan lagi saja pesawat yang kembali lagi kepadamu?”

“Tidak. Pesawat yang kembali lagi padaku itu sudah menemukan takdirnya di sini. Ia diterbangkan hanya untuk kembali,”

            Ternyata pesawat kedua yang telah ia terbangkan ke udara tak kembali lagi. Tiba-tiba langit seperti cepat redup. Matahari seperti ingin segera bersinar di belahan dunia lain. Suara anak-anak mengaji tak lagi terdengar. Aku hanya mendengar keheningan yang abadi. Lagi-lagi lelaki itu dan surat anginnya tetap saja misterius. Entah mengapa mulutku seperti bungkam untuk banyak bertanya. Ini berbeda saat aku menjadi wartawan dulu. Yang dengan mudahnya mendesak narasumber untuk mengeluarkan berbagai pernyataan. Bahkan memancingnya untuk membongkar aib orang lain.

            Suara mikrofon di masjid mengalun dengan lantunan ayat-ayat suci. Aku masih ingat surat yang dibaca qori itu surat Ar-Rahman. Surat yang banyak menceritakan fenomena alam. Syahdu sekali mendengarnya. Aku melangkah pulang dengan diiringi semilir angin yang gontai. Pikiranku masih kembali menerawang pada lelaki itu. Aku harus mencari tahu lagi apa sebabnya ia harus menerbangkan pesawat kertas itu setiap sore hari.

****

            “Kawan, coba lihat pernahkah kau menerbangkan pesawat kertas hingga menembus langit,” ia bersorak karena menyaksikan pesawat kertasnya bermanuver di atas awan kemudian menembus langit. Seperti ada tangan gaib menariknya.

            “Hei, bagaimana kau bisa menerbangkannya?”

            “Entahlah. Padahal kali ini aku tak menuliskan apa-apa di dalamnya,”

            “Ah, yang benar saja kau,”

            Benar saja. Aku menyaksikan pesawat itu terbang ke  udara lantas semakin tinggi dan semakin tinggi. Aku yakin pesawat itu pasti menyapa Tuhan di arsy sana. Ah, bagaimana mungkin benda mati yang tak berharga itu bisa menuju singgasana Tuhan. Sedangkan manusia saja hanya derajat nabi yang bisa menembusnya. Sedangkan kita hanya bisa bermimpi.

            “Tumben, kok kau tidak menuliskan apa-apa di dalamnya?”

            “Memang sengaja aku tidak menuliskan apa-apa di dalamnya,”

            “Maksudmu?”

            “Aku ingin Tuhan yang menuliskan sendiri kata-kata di dalamnya,”

            “Hei, apa kau sudah gila! Mana mungkin hal itu bisa terjadi,”

            “Hahaha,”

            Lelaki itu tertawa terbahak-bahak. Seperti mentertawakan dirinya sendiri. Suara anak-anak mengaji samar-samar terdengar lagi di mikrofon. Ini yang kesekian kalinya marbot masjid lupa mematikan mikrofan selepas azan ashar tadi.

            Sambil menikmati keriangan sore itu. Dan sambil menunggu datangnya pesawat kertas yang tengah bermi’raj ke langit ketujuh, aku iseng bertanya pada kawanku itu,

            “Sebenarnya apa yang membuatmu ingin membuat surat angin dari pesawat kertas itu?”

            Tanpa beban pikiran akhirnya lelaki itu mengungkapkan alasannya. Alasan yang mungkin tak pernah orang lain mendengarnya. Atau orang lain tak pernah ada hasrat untuk menanyakan hal sepele tersebut pada lelaki itu.

            Pernah suatu ketika aku menanyakan pada orang lain tentang perangai lelaki itu yang kerap menerbangkan pesawat kertas saban sore hari. Lalu apa jawaban mereka,

“Paling waktu kecilnya nggak pernah merasakan main kapal-kapalan,”

“Hah, biarian ajalah dia sudah besar ini,”

“Mungkin kebanyakan baca buku fiktif kali tuh jadi kebanyakan mengkhayal,”

“Jangan-jangan dia lagi patah hati, makanya dia bikin surat buat kekasihnya itu,”

Aku tak pernah mendapat jawaban meyakinkan dari mereka. Sepertinya memang tidak ada yang peduli kepadanya. Tapi kini setelah waktu dan saat sudah tepat, aku mendapatkan jawaban langsung darinya.

“Kau tahu, ketika manusia yang ada di sekitar kita tak lagi punya rasa sebagai manusia. Ketika manusia tak lagi memiliki nurani dan akal sebagai manusia. Ketika cinta, kasih sayang dan pengertian telah lenyap dari perasaan manusia, maka salahkah aku kalau lebih baik berbicara, menulis dan menuangkan segala benak perasaanku pada angin,”

Aku masih belum mengerti. Aku benar-benar mencerna dan berusaha memahami kata-katanya.

“Siapa manusia yang kau maksud?”

 “Mereka, orang-orang yang berpura-pura menjadi manusia padahal sebenarnya adalah binatang. Berpura-pura menjadi manusia seperti ayah yang baik namun dengan beringas memakan daging-daging murahan di jalan. Berpura-pura menjadi manusia seperti istri yang manis namun dengan liar dan rela menjadi mangsa serigala-serigala yang lapar,”

“Dengan begitu kau lebih nyaman bersahabat dengan angin?”

“Ya, aku lebih nyaman menulis surat kepada angin, juga kepada alam, kepada semilir, kepada gemericik  atau apa saja selain manusia. Toh mereka sama-sama ciptaan Tuhan seperti kita. Mereka diam tanpa banyak laga seperti kita manusia,” ujarnya parau.

Sejenak, datang gelombang angin menerpa bulu-bulu kulitku. Sekujur tubuhku seperti mau tumbang. Angin tiba-tiba berhembus sangat kencang. Kencang sekali. Sejak saat itu bumi seperti retak.Badanku oyag. Kakiku berguncang. Kelebatan ranting-ranting menyayat-nyayat kulit wajahku.

Suara riuh berkelebatan.

Tiba-tiba tanaman padi dalam bentangan sawah itu berputar-putar seperti debu padang pasir. Ini seperti bencana alam. Jantungku perlahan berdebar.

Ada apa ini? Wajahku sepertinya pucat dan tegang. Namun tidak dengan lelaki itu. Ia terlihat tenang-tenang saja. Ia seperti tidak merasakan apa pun. Seperti telah menangkap sebuah isyarat.  Lalu samar-samar kudengar dari mulutnya, “Aku sedang menunggu pesawat kertas dari langit, sebuah surat angin,”

Sejak itu aku tidak melihatnya lagi, bahkan mengenalnya. Suara itu seperti nyanyian dari angkasa.<I>

                                                                                   

   Kamis, 19 Ramadan 1430 H

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Joomlart