Elegi Nihai
Oleh: Tyara Nurani
Pagi nan cerah di sebuah Pondok Pesantren ternama Provinsi Banten. Kicauan burung-burung bernyanyi menyambut senyuman mentari. Terlihat hiruk-pikuk pagi di asrama putri, terlebih di gedung Ar-Rifa’i yang tersusun berhadapan empat gedung yang dinamai Ar-Rifa’i 1-4. Di sana adalah tempat para Nihai tinggal. Terlihat kesibukan para Nihai membersihkan kamar mereka, ada juga yang sibuk mengantri di dapur untuk mengambil nasi. Bahkan ada pula yang masih sibuk mengantri untuk menunggu giliran mandi. Kesibukan pagi nan indah, semua bersiap menyambut hari mereka.
*Jaros berdering kencang, menggemparkan seisi Pondok. Para santri bergegas keluar dari asrama menuju kelas masing-masing. Asatidz BP(Bagian pengajaran) bersiap dengan klaksonnya menggebrak para santri untuk masuk kelas. *Mudhabir dari kelas lima pun siap siaga menghadang para santri yang terlambat. Bagi santri yang malang karena terlambat, mereka harus berbaris berjejer rapi di depan kantor BP untuk scot jump bersama yang dikomandani oleh sang mudhabir.
Sekilas, para Nihai mengamati peristiwa lumrah itu. Ada kenangan tersendiri bagi mereka. Terlihat ada yang saling senyum melihat adik kelas mereka, ada pula yang nostalgia, dan banyak lagi. Terlebih hari ini adalah hari terakhir mereka masuk kelas sebagai santri.Ada rasa senang, sedih dan haru berbaur di hati mereka.
Gedung An-Najah nan megah dengan arsitektur uniknya menjadi kelas para Nihai menjalani proses belajar-mengajar selama setahun terakhir ini. Terlihat berbagai macam obrolan terdengar sayup-sayup di kelas IPA 1 sampai IPS 9. Terlebih di lorong kedua, lantai dua, dimana sebuah papan kayu tertulis ‘IPS 1’, ada dua akhwat yang sedang asyik berbincang di kelasnya sambil menanti ustadz pengajarnya datang.
“Gak terasa ya kita udah Nihai aja!” Binar ceria di mata Intan membuatnya tersenyum.
“ Iya, gak terasa kita udah mau lulus aja. Padahal kayaknya baru kemarin kita masuk Pondok, terus nangis-nangis waktu Papa-Mama kita pulang.” Intan mengangguk menyetujui. “Bener Ris. ingat gak waktu kelas dua? Kita berempat; kamu, aku, Faisal sama Alan. Kompakan nangis minta pulang pas kita *dimudif bareng!” Kharisma tertawa mengingatnya.“Ingat! Waktu itu kita protes karena gak boleh liburan tahun baru. Terus kita bikin kehebohan dengan nangis bareng, sampai-sampai diliatin sama semua wali santri!” Keduanya tertawa.“He-eh. Parah banget ya kalo ingat itu?! Gak sangka sekarang kita berempat udah Nihai, terus sebentar lagi mau jadi mahasiswa!”
“Iya, gak sangka kita yang dulunya cupu abis, sekarang jadi keren. Apalagi Faisal sama Alan, dulunya anak tuh culun banget, eh sekarang malah banyak fans-nya!” Intan tertawa.
“Bener banget Ris, oya… masih ingat gak waktu Alan nangis bombay pas dia ternobat jadi mudhabir ibadah?” Kharisma diam, mencoba mengingat memori setahun silam. “Oya, waktu itu kita semua sekelas. Terus Alan nangis histeris setelah *tansib. Soalnya dia takut banget karena tanggung jawabnya kan gede! Sampai-sampai Faisal pusing ngademin Alan biar gak nangis lagi!” Intan mengangguk-angguk setuju.
“Iya, lucu banget ya?! Ada aja kehebohan yang kita buat!”
Kita?! Situ aja kale…sini gak!” Akhirnya keduanya saling bercanda. Mereka menikmati kebersamaan dengan saling bernostalgia. Awan keceriaan menyelimuti hati para Nihai yang akan menghadapi akhir perjuangan mereka selama empat dan enam tahun silam.
“Lan, udah siap *I’dad-nya?” Alan menoleh ke arah sahabatnya.
“Belum. Masih harus di revisi lagi! Padahal dapet jadwal *amaliyah tadris-nya kelompok pertama!” Faisal tersenyum maklum mendengar keluhan sahabatnya.
“Trust me,u can do it, bro! Alan yang ane kenal gak gampang nyerah!” Alan menghela nafas masygul.
“Iya, ngomong sih gampang! Ente kan udah selesai, makanya santai aja! Perdana kan?” Faisal mengangguk.
“Ya udah, ane bantu deh biar cepet selesai! Gimana?” Terlihat perubahan di binar matanya.
“Serius nih?” Faisal mengangguk mantap.
“ Apa sih yang gak buat Alan?!” Candanya, Alan tertawa lega. Satu bebannya terangkat seketika. Laksana awan hitam yang pergi menghilang dari kepalanya.
“Thanks ya bro!”
Beginilah para Nihai, ujian demi ujian mereka jalani. Terkadang menguras tenaga, pikiran bahkan emosi. Karena proses menuju kelulusan yang mereka lalui tak semudah membalikkan telapak tangan.
***
Proses menuju gerbang impian *Haflah At-Takhrij membutuhkan perjuangan yang begitu besar. Para Nihai harus melalui berbagai proses menuju kelulusan. Dari menghafal dua puluh surat pilihan, praktek ibadah(terutama imamah), ujian lisan, bahkan hal yang mereka jalani sekali selama hidup di Pondok, yaitu amaliyah tadris, yang begitu menguras pikiran, jiwa bahkan tenaga.
Tepat di hari sabtu, jadwal amaliyah perdana. Faisal berulang kali menghapus peluhnya dengan sapu tangannya. Ia begitu nervous menghadapi proses satu ini. Bukan karena ia tidak menguasai materi, atau belum hafal *thariqah tadris, tapi karena kali ini adalah amaliyah perdana, dimana semua gerak-geriknya di *naqd oleh semua santriwan seangkatannya. Mulutnya tak henti berzikir untuk menenangkan hatinya agar proses Amaliyahnya berjalan lancar.
Di waktu yang sama, tempat berbeda. Kharisma sibuk menguasai dirinya agar tetap tampil tenang meski hatinya berdebar tak karuan. Sungguh ia nervous menghadapi proses satu ini. Karena dia tampil menjadi contoh bagi yang lainnya. Hatinya pun tak henti berzikir.
Proses Amaliyah pun berlangsung. Faisal dan Kharisma menjalani tadris mereka dengan santai.Satu per satu thariqah telah mereka lalui hingga akhir. Jaros istirahat berbunyi, mereka pun mampu bernafas lega. Akhirnya satu proses telah mereka jalani. Dan mereka akhiri proses ini dengan hamdalah.
***
Sorenya, Kharisma dan Intan pergi mengambil nasi untuk makan sore. Mereka ikut menyaksikan teman-teman seangkatannya diguyur karena belum menyelesaikan hafalan surat wajib yang menjadi syarat mutlak kelulusan santri. Ada rasa iba dan doa mereka batinkan untuk teman-teman itu. Mereka berharap agar semua Nihai bisa diwisuda bersama tanpa harus ada yang tertinggal atau pulang sebelum acara haflah.
Selesai satu proses bukan berarti lepas dari proses yang lain. Setelah merampungkan amaliyah tadrisnya, Kharisma sibuk membuka-buka kitab-kitab pelajaran yang akan diujikan lisan oleh para asatidz senior. Sedangkan Intan sibuk menghafal thariqah tadrisnya untuk proses amaliyah tadrisnya.
Di tempat berbeda, tepatnya di gedung Al-Kahfi, Faisal sibuk mencorat-coret lembaran kertas sisa i’dadnya. Terlihat tumpukan kertas menggunung di tempat sampah. Bukan sampah kertas Alan atau teman lainnya. Tapi adalah kertasnya sendiri. Ia bingung harus memulai merangkai kata bagaimana agar ia mampu mengungkapkan rahasia hati yang ia simpan sejak empat tahun lalu, dimana saat itu ia baru mengenal love at first time pada seorang gadis yang selama enam tahun ini mengisi hari-harinya.
***
Kharisma masih sibuk dengan bacaannya. Hingga Intan datang setelah selesai amaliyah kelompok. Intan datang dengan menyodorkan secarik kertas yang diperuntukan baginya.
“Ris, nih surat dari Faisal! Katanya secret! Aku sama Alan aja gak boleh ngintip atau sensor suratnya. Katanya cuma buat kamu!” Kharisma mengeryitkan dahi.
Cuma buat aku?! Aneh deh! Ia pun membuka dan mulai membacanya.
Intan mengamati perubahan-perubahan mimik muka sahabatnya ketika membaca setiap kata per kata surat yang dibuat Faisal khusus untuknya. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Bingung menafsirkan perubahan air muka sahabatnya itu.
Kharisma tertawa sumbang. Terdengar aneh tawanya setelah membaca surat dari sahabatnya, Faisal. Ia menghela napas masygul. Ada beban di hatinya
“Apa isi suratnya Ris?” Kharisma tersenyum.
“Biasa. Dia curhat masalah pelajarannya!” Dustanya. Intan senakin bingung.
“Masa’ sih cuma curhat masalah pelajaran sampai kita gak boleh baca?!” Kharisma tertawa.
“Itu karena dia takut kalian kalahin! Tau sendiri gimana Faisal kalo dalam masalah belajar, temen aja bisa jadi saingan buat dia!” Kharisma beranjak dari tempatnya. Berusaha menghindari berbagai ketidak mengertian sahabatnya.
“Oya In, nanti malam belajar depan kamarku aja ya? Males jauh-jauh nyebrang ke kamar kamu!”
“Ta ela dah mbak, kayak jauhnya dari samudra antartika aja. Padahal cuma lompat ke sebrang kamar doang nyampe!” Intan diam sejenak.” Tapi iya deh, belajar di depan kamar kamu aja! Soalnya di kamar aku berisik!” Keduanya pun kembali ke kamar masing-masing.
***
Para Nihai belajar di depan gedung. Di sela belajar, mereka menjahili adik-adik kelas mereka yang berlarian untuk bergegas menuju *gurfah muhadharah, karena malam itu adalah malam jum’at, dimana jadwal belajar pidato atau biasa disebut dengan muhadharah. Mereka mengatasi kejenuhan dengan tertawa-tawa menyemangati para adik kelas yang berlarian mengejar waktu agar tidak terlambat sampai di gurfah.Keceriaan-keceriaan terpancar di sela kejenuhan belajar. Demi satu impian, yaitu haflah at-takhrij,dimana harga sebuah perjuangan akan ternilai berharga di hari itu. Hari penentuan siapa yang membuat orang tua mereka menangis haru dan siapa yang menbuat orang tua mereka menangis tersedu melihat keberhasilan dan kegagalan mutiara hati mereka. Dan hanya dengan belajar harga sebuah perjuangan akan ternilai di acara haflah nanti.
***
Penantian akan sebuah impian yang sebentar lagi menjadi nyata memang terasa begitu lama. Seolah waktu enggan berputar lebih cepat. Berbagai macam universitas mempromosikan diri di hadapan mereka. Memberikan janji-janji, entah ada atau tidak kebenarannya. Yang terpenting bagi mereka adalah menunggu jum’at tenang, dimana sabtu setelah itu impian mereka selama empat dan enam tahun silam menjelma nyata.
***
Tanpa terasa hari yang dinantikan pun tiba. Segenap penjuru kamar Nihai menyambut gembira. Malam ini adalah malam perpisahan bagi mereka. Malam terakhir mereka tidur di asrama sebagai santri. Hampir semuanya bergadang untuk saling bercengkrama dengan sahabat, atau sekedar mengutarakan impian-impian masa depan, atau juga bingung memilih universitas mana yang akan mereka pilih. Suasana malam ini ramai seolah esok enggan bergegas menjemput mentari.
Di sebuah kamar, Kharisma terpekur dalam sujudnya. Syukur tak terkira ia rasakan setelah melalui segala ujian dan cobaan mencapai hari esok, dimana hari itu adalah satu daris ekian impiannya. Ia bersyukur pada sang Maha yang telah memudahkan segala urusannya. Ia terhanyut dalam ketenagan yang begitu dalam. Berdialog denganNya dengan buliran air mata penuh kesyukuran tak terkira. Ni’matNya takkan pernah mampu dibadingkan dengan segala apapun di dunia ini.
Setelah selesai dengan tahajjudnya, entah mengapa hatinya tergerak untuk menulis surat pada ketiga sahabatnya. Terutama Faisal, yang telah lama menunggu balasan suratnya.
***
Dalam lelap mimpinya, Faisal seolah berada di sebuah taman indah nan teduh. Dari kejauhan ia melihat Kharisma dengan kerudung putih dan pakaian putihnya begitu berkilau, laksana bidadari surga di hadapannya. Gadis itu tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Begitu ia ingin mengejarnya, bayangan Kharisma semakin jauh dan menghilang.
“RISMA…
”Serunya mengejar gadis itu. Namun perlahan tapi pasti, sosok Kharisma yang berkilau itu semakin mejauh dan hilang.
Faisal terjaga dari tidurnya. Ia beristigfar mengingat mimpinya. Tiba-tiba perasaan galau menyelimuti hatinya, hatinya tak henti berdoa semoga tak terjadi sesuatu pada sahabatnya yang sangat berarti di hatinya.
***
Intan datang ke kamar Kharisma, ingin membangunkan sahabatnya untuk shalat shubuh berjama’ah di kediaman *Mudhirah ma’had. Ia mendapati sahabatnya tertidur pulas dengan mengenakan mukena.
“Ris…bangun! Shalat shubuh yuk!” Lalu Sheva, teman sekamar Kharisma yang melihat gadis itu baru tertidur sejam yang lalu menegur Intan.
“Jangan di bangunin tan, kasihan baru jam tiga tadi dia tidur! Biar shubuh di kamar aja.”
“Ya udah kalo gitu titip Risma ya Shev!” Sheva mengangguk dan kembali merapikan barang-barangnya.
***
Pagi itu semua sibuk masing-masing. Para wisudawati sibuk antri untuk didandani, ada juga yang masih ngantri mandi, bahkan masih ada yang sempat merapikan barang-barang untuk di bawa pulang. Begitupula Intan, ia sibuk didandani mamanya. Seolah mereka terlupa akan satu diantara mereka yang masih terlelap dalam balutan mukena.
Setelah semua rapi, Intan baru menyadari sesuatu, ia lupa akan sahabatnya. Ia pun bergegas menuju kamar Kharisma. Ia mendapati sahabatnya masih terlelap dalam posisi dan pakaian yang sama.
Ta ela dah nih bocah masih tidur juga! Ris, bangun Ris! Haflah cuy! Masa’ masih *nhaum aja siy?!” Ia mengguncang-guncang sahabatnya. Namun Kahrisma tak bergeming.Intan panik. Ia berlari memanggil mamanya. Mama Intan menghampiri kamar Kharisma, lalu menghubungi orang tua Kharisma yang masih dalam perjalanan.Kemudian mama Intan bergegas memanggil ustadzah terdekat. Ustadzah Ely yang kebetulan ada langsung memeriksa keadaan Kharisma. Para Nihai terkesiap. Harap-harap cemas melihat keadaan genting ini.
“Innalillahi wa inna ‘ilaihi raji’un.” Ucap ustadzah Ely setelah memeriksa denyut nadi Kharisma. Sontak semua wisudawati tercengang dan menitikkan air mata. Terlebih Intan, ia tersedu tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Ustadzah Ely bergegas menhubungi mudhirah ma’had, mengabarkan kabar duka ini. Kebahagiaan yang dinanti berubah menjadi elegi bagi para Nihai.
Acara Haflah At-Takhrij segera dimulai. Para tamu sudah berdatangan tak sabar menanti para wisudawan dan wisudawati. Meski dengan cucuran air mata yang tiada henti, meski hanya dengan make up yang luntur dengan air mata, mereka harus tetap menyongsong hari bahagia ini dengan senyuman. Meskipun hati perih tersayat duka.
***
Para wisudawan dan wisudawati memasuki ruangan. Intan menatap nanar pada bangku di sisinya. Air matanya mengalir deras tanpa ia perintah. Hatinya miris. Sungguh ia tak menyangka kehilangan ini.
kamu di sini Ris. Ia menghapus air matanya.
Di sebrang wisudawati, dimana para wisudawan sudah rapi dengan stelan jasnya dan tampil gagah saat itu ada seseorang yang menatap barisan wisudawati. Ia mencari sosok yang semalam hadir di mimpinya. Dalam bayangnya, ia melihat gadis itu tersenyum padanya dengan kebaya wisuda dan dandanan yang menawan. Persis seperti yang ia lihat dalam mimpinya.
Lan, lihat deh! Risma cantik banget!” Alan menoleh, mencari sosok yang di tunjuk sahabatnya. Ia celingukan, tak menemukan sosok Kharisma.
“Mana Sal?! Gak ada!”
Itu yang duduk di sebelah Intan!” Alan mengernyitkan dahi. Semakin bingung.
“Iya aja deh, cantik!” Pasrahnya. Ia berpura-pura melihat apa yang tak ia lihat. Demi menyenangkan hati sahabatnya.
Faisal tersenyum senang memperhatikan Kharisma. Hatinya semakin bahagia. Pembacaan yudisium pun akhirnya berlangsung. Para wisudawan-wisudawati berdiri. Hati mereka berdegup harap-harap cemas, berharap tidak terpanggil pertama. Karena yang terpanggil pertama bukan yang terbaik, melainkan sebaliknya. Hal it uterus berlangsung hingga pembacaan yudisium ‘mumtaz’ peringkat pertama.
“Yudisum mumtaz, satu…Kharisma dwi widyani.” Begitu nama itu di panggil, muncullah sosok gadis dengan kebaya wisudanya untuk mengambil ijazah pondoknya.Semua wisudawati terpana. Tak percaya dengan apa yang ia lihat. Terlebih Intan, ia tak kuasa menahan isak tangisnya.
“Perjuanaganmu berhasil, nak. Tenanglah di sana..” Gumam mudhir ma’had seraya memberikan ijazahnya. Sorak-sorai para santri terdengar riuh melihat senior mereka berhasil. Intan semakin miris.
Selamat Kharisma, sahabatku…semoga kamu tenang di sana. Intan kembali menatap bangku kosong di sisinya yang tergeletak ijazah sahabatnya.
Di kamar Kharisma, orang tua Kharisma di bantu ustadzah Ely merapikan barang-barang putri mereka. Ustadzah Ely menemukan secarik surat ketika merapikan. Lalu membacanya dan menyimpannya. Berselang kemudian, orang tua Kharisma pamit dan menjemput jasad putri semata wayangnya.
***
Acara Haflah selesai. Faisal dan Alan mencari sahabat mereka, Kharisma dan Intan. Mereka celingukan mencari sosok dua dara itu.
“Ukhti, lihat Risma gak?!” Wisudawati yang di tanya tidak menjawab, hanya menangis mendengar nama itu disebut. Faisal dan Alan kembali mengulangi pertanyayan itu pada wisudawati lainnya. Namun jawabannya sama, menangis dan berlalu. Keduanya menggaruk-garuk kepala mereka yang tak gatal. Heran bercampur bingung.
Lalu mereka sepakat menghampiri kedua orang tua Intan yang berada di saung depan Aula. Mereka terkesima mendapati sahabat mereka, Intan menangis tersedu di dekapan mamanya tanpa hadirnya Kharisma.
“Risma mana In?!” Intan semakin terisak. Faisal jaidi serba salah. Bingung bercampur penasaran.
“Ada apa sih?! Kok pada nangis semua?” Alan semakin pusing melihat keadaan ini. “Kenapa sih sama Kharisma om?” Tanya Alan pada Papa Intan. Papa Intan menunduk lesu, bimbang mengatakannya.
“Ada apa sih sebenarnya tante?!” Faisal angkat bicara. Mama Intan diam, bingung bagaimana mengatakannya
“Kenapa semua diam?! Ada apa sih?” Faisal kesal. Ia membuka peci hitamnya. “Ini, baca suratnya!” Mama Intan menyodorkan secarik kertas. Faisal membukanya dan membaca surat itu.
Dear sahabatku,
Akhirnya impian kita akan menjelma nyata. Besok kita semua akan diwisuda dan diakui menjadi alumni pondok tercinta ini. Selamat ya, perjuangan kita membuahkan hasil.
Intan, sahabatku yang baik dan lucu. Sebentar lagi kita akan menjadi mahasiswa. Jangan nakal ya! Aku yakin kamu mampu berjuang dengan hidupmu meski aku gak bersama kamu. Mulailah belajar untuk dewasa, sahabatku! Karena dunia menanti Intan yang menjelma menjadi kupu-kupu nan indah.
Alan, sahabatku yang childish dan hebat. Aku salut akan semua usahamu menjalani hidup selama enam tahun silam ini. Sungguh, esok akan menjadi hari terbaik untukmu. Sama pesanku padamu, jadilah Alan yang dewasa dan bijaksana, karena dunia menantikanmu. Tolong jaga Intan baik-baik ya! Jangan suka bertengkar lagi ya…
Faisal, sahabatku yang berwibawa dan bijaksana, sang pembelajar sejati. Maaf, karena aku belum membalas suratmu. Tapi di surat ini aku akan menjawab pernyataanmu kemarin. Faisal, aku memang menyayangimu, karena kamu sahabatku. Aku mengagumi semua yang ada pada di dirimu. Tapi, kalau jodoh tak akan pergi kemana. Semoga di suatu saat nanti jika memang kita di takdirkan bersama, kita akan bertemu di momen terindah yang menjadi impian semua manusia…aku ingin kita –jika Allah menhendaki- tak mengotori anugerahNya dengan sesuatu yang dibenciNya. Kalau memang kamu benar sayang padaku, ikrarkanlah dengan akadmu!(Tapi nanti ya…kalau sudah dewasa!^_^) Sahabatku, teruslah arungi hidupmu…meski kita jauh, kalian akan selalu di hatiku…Selamat berjuang sahabatku, dunia menanti kalian untuk menjadi tumpuan harapan bangsa…Selamat…Selamat… Salam sayang selalu, Sahabatmu
Kharisma
Faisal terpekur lemah membaca surat itu. Ia terperangah tak percaya menerima kenyataan ini. Kenyataan akan makna mimpinya bahwa Kharisma telah pergi. Kenyataan akan cintanya yang terpisah ruang dan waktu. Kenyataan bahwa bidadari itu pergi di hari bahagia. Diam-diam buliran air mata mengalir deras di pelupuk matanya. Hatinya hancur lebur menghadapi kenyataan ini. Bukan hanya dia yang bersedih, ternyata Alan ikut menangisi kepergian sahabatnya. Ia sama tak menyangkanya dengan Faisal akan kenyataan ini.
Hujan mengguyur bumi, seolah ikut berduka bersama para Nihai yang kehilangan saudara mereka. Saudara seiman yang telah pergi mendahului di hari bahagia. Terpatri di relung jiwa sebagai elegi.
*sekian*
Keterangan:
*Nihai : sebutan untuk para santri yang sudah memduduki tingkat akhir di Pondok.
*Jaros : Bel
*Mudhabir : Pengurus
*Mudif : Jenguk
*Tansib : Biasanya disebut dengan Tansibul Mudhabbirat yang artinya Pergantian Pengurus *I’dad : Materi
*Amaliyah tadris : Praktek mengajar
*Haflah At-Takhrij : Acara wisuda santri
*Thariqah tadris : Metode mengajar
*Naqd : Koreksi
*Gurfah muhadharah : Ruangan berpidato, biasanya tempatnya di kelas yang sudah di tentukan.
*Mudhirah ma’had : Ibu Pengasuh Pondok Pesantren.
*Nhaum : Tidur
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Elegi Nihai




































