Sesal
Hari terus berganti
Tapi tak ada mimpi yang terwujud
Waktu terus berlalu
Tapi tak ada angan yang teraih
Detik terus berjalan
Tapi tak ada asa yang tergapai
Kuberjalan gontai melangkahkan kaki
Tanpa arah yang pasti, tanpa henti
Kupikirkan alam mengarahkan hati
Tanpa arti yang pasti, tanpa henti
Menatap debu-debu yang beterbangan
Menghadapi angin-angin yang berhembus
Menghayati tanda alam yang telah terjadi
Memaknai arti hidup yang berlalu
Masih adakah mimpi yang terwujud
Masih adakah angan yang teraih
Masih adakh asa yang tergapai
Masih adakah arti hidup ini
Meski kutak dapat mengembalikan waktu yang berlalu
Meski kutak dapat mengembalikan batu yang kulempar
Meski kutak dapat mengembalikan kata yang kuucapkan
Biarlah kuhanya bermain dengan angan dan khayalanku
Selamat Pagi, Anakku
Anakku ...
Nak ...
Adzan subuh sudah berkumandang
Kokok ayam sudah terdengar
Burung-burung kecil sudah bernyanyi
Gelap sudah berganti
Kabut sudah pergi
Embun pagi sudah berkilauan
Hangat sudah kembali
Ibumu sudah menyiapkan sarapan pagi
Sebagai tanda dimulainya hari ini
Kuucapkan salam selamat pagi
Kuusapkan kehangatan tangan ini
Kumandikan dengan air suci
Kululurkan bedak lembut dan wangi
Kuberikan baju kesukaanmu
Kuhadapkan dengan hangatnya sinar mentari pagi
Puisi Tak Sampai
Ketika hadir suatu asa
Akan apa harap terasa
Yang mampu selipkan rasa
Di antara sunyinya jiwa
Tapi apa asa terasa
Tidak seperti apa seharusnya
Masih tetap di sini adanya
Tanpa ke mana-mana
Sampai pada akhirnya
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Puisi-puisi Irwan **)




































