GELEMBUNG MALAM
Oleh: Adhi P Hermawan
Ini adalah bulan Mei tahun dua ribu dua. Pria tua duduk terpaku seorang diri, di halaman belakang rumah. Pria itu bernama Pak Toha. Sambil menikmati harumnya tembakau, matanya menerawang jauh bersama asap rokok yang melayang. Hatinya dalam, merindukan seorang anak lelakinya yang sudah lama pergi. Entah berapa lama sudah perginya, pria tua berambut putih itu tak ingat lagi. Usia menggerogoti daya ingatnya. Satu hal tak lupa di benak, anak lelakinya seorang pemberani. Pemuda tangguh dan cerdas. Sayang, terakhir Pak Toha melihatnya saat pemuda itu berumur 23 tahun.
Matahari merangkak ke arah barat, senja akan tiba. Diletakannya selinting rokok yang belum habis ia hisap, di asbak purbanya. Pria tua berumur 65 tahun ini pun beranjak dari kursi reotnya, ia melangkah ke depan tak jauh dari posisi semula. Dicabutnya sebatang pohon singkong, untuk bekal malam ini. Memang, belakang rumah mereka adalah kebun singkong yang tak begitu luas.
Beberapa saat kemudian, sang istri menghampiri suaminya yang tengah memunguti singkong hasil cabutannya. Seolah si istri sudah tahu kegiatan rutin suaminya di kala sore. Ia datang tidak dengan tangan kosong, istri setia itu membawa sebotol minyak tanah untuk bakaran.
”Pak, ini minyaknya..” Suguh istrinya.
”Iya, taruh saja di situ..”
”Bapak mau minum kopi lagi ?”
”Ndak usah Bu..Nanti malam saja. Apa Ibu sudah lupa dengan hari? Besok itu hari Jum’at, Bu..” jawab si suami sambil menyeka keringat di wajahnya.
”Apa besok itu Jum’at kliwon Pak..?” Mimik si istri bingung.
”Iya.. Jadi, malam ini adalah malam Jum’at kliwon.”
”Ya sudah Pak, nanti malam saya buatkan dua kopi..”
Setelah meletakan botol yang berisikan minyak tanah, si istri kembali ke dalam rumah. Sedangkan suaminya, seusai mengambil dua buah singkong yang ia cabuti dari sebatang pohonnya, ia menyiapkan kayu bakar untuk membakar singkong nanti malam. Ranting-ranting kering dan kayu-kayu belahan pun ditatanya, bak anak pramuka yang hendak membuat api unggun penghangat tubuh dari dinginnya malam.
***
Gelap terus merambat, melahap birunya langit. Adzan maghrib sudah satu jam berlalu. Pak Toha menuju halaman belakang rumah. Wajahnya menengadah ke atas. Dilihatnya langit yang sedang tak berbintang.
”Gemintang sedang pergi rupanya.., seperti anak lelakiku.. Apa hendak turun hujan malam ini ?” ujar dalam hatinya.
Pak Toha tak peduli jika langit akan meludahi tanah. Ia nyalakan api unggun yang dipersiapkannya tadi sore. Api sudah menyala. Diceburkannya dua buah singkong ke dalamnya, membiarkan lidah-lidah api menjilati singkong-singkong berdaging putih itu. Sembari duduk menghadap api, hatinya mengeluh kerinduan pada anaknya yang telah lama pergi.
Mendung
gelap pekat
Langit
akan runtuh
Hujan rintik
gelap sambut malam
sunyi iring sepi
Katak
pun enggan
bernyanyi
( Puisi, Wardjito Soeharso:”Hati Sepi” )
Setengah jam kemudian, istrinya datang dengan membawa nampan. Di atas nampan itu berdiri dua gelas kopi hitam. Satu gelas kopi tanpa gula, khusus untuk Pak Toha. satu gelas kopi yang satunya di letakkan di seberangnya Pak Toha. Firasat Pak Toha merasa, anaknya akan datang padanya malam ini, setelah lima tahun pergi.
”Ibu yakin?.. Budi akan pulang malam ini?” tanya Pak Toha penuh harap.
”Kalau Bapak yakin akan kedatangan si Otong malam ini, saya pun harus yakin, Pak..” jawabnya. Linangan air mata terlihat di pelupuk matanya.
Otong adalah panggilan Budi semasa kecil. Istri Pak Toha sungguh sayang pada anak lelaki semata wayangnya. Sampai-sampai kedua orang tua itu tak percaya jika Budi sudah tiada. Mereka yakin Budi tidak mati, tapi sekedar pergi sebentar meninggalkan negeri yang katanya demokrasi ini. Budi hilang di telan bulan Mei, tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh tujuh.
Mahasiswa cerdas itu, entah di mana rimbanya. Semalam sebelum Budi raib dari kamar kostnya, konon kata teman-temannya ia dijemput dua orang berjaket kulit. Mereka tak mengenal orang-orang itu. Malam yang misterius itu, teman-teman kostnya hanya melihat terakhir kali Budi mengenakan topi dan membawa sarung bermotif batik, yang ia genggam erat di tangan kanannya. Sejak itu Budi tak kunjung terlihat lagi.
***
Masih duduk di dekat suaminya, si istri mendekatkan kedua telapak tangannya ke api, meminta kehangatan. Sambil hatinya terus memohon pada Sang Gusti Pangeran agar Budi kembali, anak lelakinya.
Dengan ranting kecil, Pak Toha menusuk-nusuk tubuh singkong yang ia masukan ke dalam api, memeriksa apakah sudah matang.
”Bu.., Singkong ini hampir siap untuk di makan. Tapi.., kenapa Budi belum datang ya..?”
”Mungkin sebentar lagi Pak..”
Setelah percakapan itu, sayup-sayup terdengar ketukan pintu depan rumah dan memanggil-manggil si penghuni rumah. Terdengar lebih dari satu orang yang datang.
”Kulonuwun..! Permisi..!..” kata orang-orang itu.
”Ada yang datang Pak?..” kata istri Pak Toha. Beranjak dari perapian lalu berlari. Siapa tahu itu adalah si Otong, pikir sang ibu. Langut hatinya tak dapat terbendung lagi.
Berdegup kencang jatung perempuan tua itu saat tangannya meraih gerendel, hendak membuka pintu.
”Akhirnya..datang juga anakku..” teriaknya girang dalam hati, sebelum daun pintu terkuak.
Pintu terbuka lebar, tapi ia tak melihat anak lelakinya berdiri di antara kerumunan lima orang yang datang. Kedua matanya hanya terfokus pada pencarian sosok Otong. Namun, terkejutnya ia ketika melihat seseorang di antara mereka membawa sebuah kantung plastik transparan. Dalam plastik itu terlunglai sebuah benda. Benda itu adalah sarung bermotif batik yang terkotori oleh lumpur.
”Maaf Bu.., kami dari kepolisian..” kata salah seorang dari mereka yang berdiri di hadapan si ibu.
”Itu..! Itu sarung anak saya! di mana dia sekarang? Dipenjara ya? Apa dia mencuri? atau, dia sekarang menjadi anggota teroris?!..” panik, bertubi-tubi pertanyaan dengan suara nyaringnya.
Pak Toha yang tadi masih berada di perapian langsung berlari, saat mendengar ada yang tidak beres di depan rumahnya.
”Wonten nopo iki, Pak ?..” kata Pak Toha dengan sopan. sambil memeluk istrinya.
Istrinya hampir pingsan, bayangan-bayangan buruk tentang Otong melayang-layang dalam kepalanya.
”Maaf Pak, kedatangan kami mengejutkan keluarga anda. Kami hanya ingin memberitahukan, jika tiga hari yang lalu.. kerangka anak anda sudah ditemukan di pinggiran sungai, yang tak jauh dari desa ini..” kata polisi itu sambil memperlihatkan sarung milik Budi.
”Haha..” Pak Toha meremehkan kabar dari polisi. ”Anak saya tak mungkin mati Pak? Itu.. itu bisa saja bukan milik anak kami..” Imbuhnya, Pak Toha sangat meragukan kabar itu.
”Kami temukan sarung ini di dalam kuburan anak Bapak.. Juga topi ini.” Polisi itu menunjukan topi yang di lipatan dalamnya ternyata menunjukan identitas si pemiliknya yang sudah menjadi tulang belulang.
Pak Toha hanya membisu, mematung sambil memegangi tubuh istrinya. Menguatkan hati, menerima kenyataan jika anaknya memang sudah pergi meninggalkan dunia ini.
”Benar, malam ini kau memang datang, Nak..” ucap lirih Pak Toha.
Kedua tangan istri Pak Toha langsung meraih benda-benda terakhir anak lelakinya itu. Didekapnya erat di dadanya. Air matanya meluber, membasahi wajah keriputnya. Tak lama kemudian, air dari langit perlahan mulai menitik. Para pemberi kabar itu buru-buru berpamitan.
Makin malam makin deras kucuran air dari awan. Gelembung-gelembung air di atas tanah pun bergantian meletup. Pecahan gelembung-gelembung dari hujan di malam hari, seolah tanda dari akhir penantian dan pengharapan pulangnya anak lelaki mereka.
-SELESAI-
Malang, Februari 2010
To Dedicated All Indonesia Activist
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Gelembung Malam



































