<< Cerpen TERIMAKASIH TELAH MENGAJARIKU CINTA  >>

TERIMAKASIH TELAH MENGAJARIKU CINTA

E-mail Cetak PDF

TERIMAKASIH TELAH MENGAJARIKU CINTA
Oleh: Desti

 

Masih teringat jelas, semua kata-kata manis yang pernah dia utarakan kepadaku sebelum semuanya benar-benar berakhir tanpa sebuah kepastian.

 “Aku ingin mengajak kamu menikah Anjani….” Sebuah ajakan menikah yang datang terlalu dini mungkin?

Mas Tony….ya, dia adalah pria yang aku kenal dari kakakku. Pria itu juga yang telah memberikan tawaran menikah itu. Kebetulan dia berdomisili di kota Lampung namun asli Palembang. Dia adalah seorang anggota TNI AD. Bangga, pertama-tama itulah yang aku rasakan ketika pertama kali mengenalnya. Selama ini aku memang megidam-idamkan mempunyai kenalan seorang pria berseragam. Aku pun tak tahu kenapa ketertarikan ku terhadap para pria berseragam muncul begitu saja. Mungkin  aku harus ingat, di dekat kantorku bekerja memang merupakan asrama para prajurit infanteri TNI AD. Tak jarang, bila aku keluar makan malam, atau sekedar berbelanja di supermarket sebelah kantor aku selalu bertemu dengan rombongan pria berambut cepak, berbadan tegap yang sudah berganti pakaian preman tentunya.

Namun, aku hanya bisa memandangi mereka dan hanya bisa membayangkan bila suatu hari nanti aku bisa berjalan dengan seorang anggota TNI( pacaran tentunya!), wah! mungkin akan sangat bangga rasanya. Hm……tapi, itu lah mungkin yang menjadi penyebab kenapa aku begitu mengagumi sosok pria berseragam. Itu bahkan bisa dikatakan menjadi hobi bagiku, ketika truk pengangkut prajurit TNI melintasi depan kantorku, aku hanya bisa memandangi mereka. Dan sekali lagi hanya bisa berharap….dengan anganku sendiri. Hingga akhirnya, suatu hari kakakku yang bekerja di kota asalku (Lampung) mengenalkanku kepada seseorang, dan aku sangat senang ketika kakakku rupanya tahu akan apa yang menjadi angan seorang adiknya ini.

Aku dan mas Tony hanya berkenalan via telpon. Kami memanfaatkan provider operator telepon seluller yang sedang gencar-gencarnya promo. Sebenarnya, jarak yang tidak sangat jauh, Palembang-Lampung. Hanya membutuhkan waktu perjalanan 1 malam saja, jika ditempuh menggunakan Kereta Api. Aku dan mas Tony sudah merasa begitu dekat meskipun kami baru berkenalan satu hari, tapi karena dia rajin menghubungiku. Jadi sudah banyak cerita yang aku dapatkan darinya. Tentang siapa dia, apa pekerjaannya, bagaimana dia dan segala sesuatu yang menyangkut tentang dirinya. Dalam 1 hari tersebut, aku benar-benar bisa merasakan kehadirannya, tanpa dia berada di sisiku.

Jatuh cinta? Akh….tidak mungkin?! Lha wong, ketemu aja belum pernah? Aku tak boleh membiarkan penyakit G-Er ku muncul lagi! Tapi, aku benar-benar merasakan debar-debar asmara saat mendengarkan suaranya. Dalam waktu 1x24 jam, dia sudah menawarkan suatu ajakan untuk membina sebuah hubungan yang serius. Astaga! Apa yah, kira-kira maksud mas Tony?? Biar aku  ulangi lagi kata-kata mas Tony, aku hanya ingin mengoreksi maknanya saja.

“Dik, mulai hari ini kita menjalin hubungan ya? Mau khan?”

“Iya mas, hubungan pertemanan. Khan kita baru kenal hari ini!” aku mencoba menanggapinya dengan selera humorku yang tinggi. Apa iya seorang tentara memang gampang menyatakan cinta kepada setiap wanita?

            Awalnya memang sempat ragu. Namun, mas Tony begitu meyakinkanku bahwa memang ini agak aneh, terutama untuk ukuran orang yang baru kenal seperti kami berdua. Kejujuran, keterbukaan, dan saling percaya itu yang akan menjadi kunci bagi kelanggengan hubungan jarak jauh kami. Ya, lambat laun aku pun mulai percaya kepadanya. Entah di taruh di mana akal sehatku waktu itu, hingga aku mau dengan gampang begitu saja menerima kata-katanya!

Setelah aku konsultasikan dengan kakakku, dia sangat-sangat setuju dengan hubungan kami, bahkan dia sangat mendukungku. Bahagia, itu lah kata yang tepat menggambarkan perasaanku saat itu. Hari-hari ku kini tak lagi sepi, setiap pagi, selalu ada sms manis menyapa ku, setiap akan pergi ke kantor selalu ada yang mengingatkan. Agak aneh, Mas Tony yang memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan “mas” padahal selama ini aku sangat jarang memanggil orang yang lebih tua dengan panggilan “mas”. Mas Tony pun tak pernah mau aku merasa terbebani.

Saat malam tiba, agar tarif telepon kami tak membengkak, dia selalu mengajakku untuk mengobrol. Ya, kami banyak bercerita mengenai kisah kami masing-masing. aku sangat-sangat bersyukur karena aku bisa mengenal pria baik seperti mas Tony. Suatu hari mas Tony pulang ke rumah salah satu tantenya yang berada tidak jauh dari kost-an kakakku, di situ dia banyak menghabiskan waktu bersamaku walaupun via telpon. aku bahagia! Ketika perjalanan pulang hendak ke mess untuk menjalankan tugas pun dia tak henti-hentinya menelponku, tak henti-hentinya jantung ini berdegup kencang menghawatirkannya karena dia harus menempuh perjalanan yang sangat jauh, 4 jam perjalanan mengendarai sepeda motor!

Aku bisa membuatmu cinta kepadaku….meski kau tak pernah mencintaiku…..” Asbax Band bernyanyi, artinya ada panggilan masuk di Hp ku.

“Dikk, lagi di mana?” sapa mas Tony dari seberang.

“Adik, lagi di Gramedia mas, cari-cari bacaan”

“Dikk, tau gak mas lagi dimana?”

“Gak tahu mas, memang lagi di mana mas? Sudah nyampe mess?" Tanyaku dengan penuh rasa ingin tahu.

“Mas lagi makan di restoran padang kesukaan mas, masih jauh dari mess dek. Masih 3 jam lagi”

“Kamu sama sapa dik?”mas Tony mencoba menginterogasi ku.

“Yeeee…kirain mas Tony lagi dimana? Suaranya girang banget, hehehe….”

“Adik sendirian mas, di rumah be-te karena adik juga menghawatirkan mas Tony”

“Iya dek, dah lapeeerrr banget tadi di jalan”

“Dikk, ati-ati ya…pulangnya jangan malem-malem” panjang lebar mas Tony menasehatiku.

Wah….berbunga-bunga rasanya hatiku ketika tahu ada seorang cowok yang memberikan perhatian lebih sepeti itu kepadaku. Selama ini aku pergi ke mana-mana  tak pernah ada yang menghawatirkanku apalagi memberikan perhatian yang benar-benar tulus seperti ini. Aku terlalu terbawa dengan perasaan ini. Aku begitu senang mendengar suaranya, aku bahagia, gembira dan begitu bersemangat setiap kali aku mendapat telpon darinya. Mas Tony, dia benar-benar sudah membuatku jatuh cinta! Malam ini seperti malam-malam sebelumnya, langit bertabur bintang, menghiasi langit cerah yang tak ternodai oleh awan mendung sedikit pun.

 Aku duduk termenung mencoba meyakinkan perasaan di hati, apakah semuanya ini benar? Apa ini bukan merupakan sesuatu yang salah yang seharusnya tak usah dilanjutkan sebelum semuanya berlanjut begitu dalam? Aku mencoba meyakinkan mas Tony ketika suatu malam dia menelponku.

“Dikk…udah bobo?” Tanya mas Tony suatu malam ketika menelponku.

“Belum mas, adik gak bisa bobo, dari tadi tungguin telpon mas Tony”

“Mas, kapan kita bisa ketemuan yah?” Aku langsung memberondong dengan pertanyaan.

“Iya dek, mas juga pengen ketemu adik”

“Setiap dines di KODAM, mas teringat adik terus”

“Tapi mas, kita khan belum pernah ketemua” protesku.

“Dikk, kamu gak ingat? Kemaren kamu khan dah MMS foto kamu?”

“Ohh…iya, adik lupa”

“Mas percaya dik, kamu adalah seseorang yang pantas mendampingi mas.”

Kata- kata itu semakin melenyapkan kegundahanku. Aku benar-benar lega mendengarnya.

Mas Tony memang paling bisa menenangkan hati ku yang galau tak karuan, akan hubungan kita yang belum ada kejelasannya ini. Akhir minggu ini aku bisa menikmati udara segar lebih dari 1 hari, karena ada 2 tanggal merah berturut-tururt setelah hari minggu. Sungguh menyenangkan. Aku langsung mengabari mas Tony dan memberitahukan bahwa aku ingin ke Lampung, menemuinya. Mas Tony kedengarannya sangat bahagia.

 

            Gemuruh gesekan suara antara roda kereta dan rel sangat terdengar jelas di telingaku. Hamparan tanah kosong terlihat jelas di depan mataku. Tapi mata ini tak bisa berhenti untuk terus menerawang jauh membayangkan apa yang akan terjadi nanti ketika aku pertama kali bertemu dengan mas Tony. Tadi mas Tony sudah berjanji akan menungguku di stasiun Kota Bumi (Lampung). Perjalanan masih panjang, laju kereta pun semakin kencang, namun harus ada rambu-rambu yang mesti di sepakati ketika kereta lain lewat, kereta yang ada di jalur berlawanan pun harus berhenti. Hp ku tak henti-hentinya berbunyi. Sms, telepon terus memberondong ke handphone ku. Mas Tony terdengar begitu antusias dan tidak sabar menanti kedatanganku.

Aku bisa membuatmu cinta kepadaku meski kau tak pernah mencintaiku…” telponku berbunyi…

“Udah sampe mana dik?”

“Wah…..baru nyampe Prabu Mulih mas, masih lama…”

“Ok….mas juga mau berangkat ke tempat bulik.

“Nanti mas jemput di stasiun Kota Bumi ya, biar kita bisa boncengan ke kost-an mbak kamu”

“Ngerepotin gak mas?”

“Dikk…kamu gak boleh ngomong gitu! masa ngerepotin?!”

“Udah, kamu ati-ati aja di jalan ya dik!”

Klik.

Telpon ditutup, mas Tony terus berusaha menjaga perasaanku.

Mas  Tony memang baik, perhatian dan penyayang. Tak peduli apapun yang terjadi. Walaupun kita belum pernah ketemuan sama sekali. Perhatian mas Tony memang tak diragukan lagi, setiap malam mas Tony selalu membagi cerita tentang perjalanannya selama ini menjadi seorang prajurit, seorang Abdi Negara.

Suatu malam pernah mas Tony membangunkanku, hanya karena ingin mengobrol, menceritakan bahwa malam itu dia beserta rombongan satu kompinya berhasil mengepung markas pencuri, mas Tony begitu berapi-api menceritakan semuanya. Mas Tony tampak bangga, aku pun bahagia mendengar ceritanya. Apalagi waktu PILKADA beberapa hari yang lalu, mas Tony memang agak menjaga jarak denganku, sampai-sampai aku hampir marah dibuatnya. Tapi, mas Tony langsung menelponku dan menenangkanku.

“Dek….mas lagi banyak kerjaan, PEMILU ini bener-bener butuh tenaga mas….adik ngertiin dulu ya…nanti malem mas telpon “

Klik. Telpon ditutup.

Sekali lagi penjelasannya yang begitu singkat namun penuh ketegasan itu kembali meluluhkan hatiku. Malam hari pun kita berbincang-bincang hingga larut malam, kami tak peduli bila kami berdua sudah mengobrol. Rasanya waktu 24 jam tak cukup. Setiap pagi, mas Tony selalu mengingatkanku untuk memulai semua aktifitas dengan doa.

Hingga suatu hari mas Tony benar-benar mengutarakan niatnya untuk membina hubungan yang serius menuju jenjang pernikahan denganku . Aku tanyakan apa dasar dan alasannya, mas Tony hanya menjawab…karena dia sudah yakin bahwa kita berdua cocok, bisa menjalin sebuah hubungan dengan ikatan komitmen. Mas Tony katakan, untuk menjadi seorang istri prajurit tentara harus rela mengorbankan pekerjaannya. Aku agak keberatan dengan perkataannya tersebut, mas Tony belum tahu betul mengenai pribadiku. Aku takut, ini hanya perasaan mas Tony yang hanya sesaat saja.  Apalagi, sebagai wanita aku tak ingin menjadi beban bagi suamiku kelak bila kita berdua menikah nantinya. Karena mas Tony tak mengijinkan ku bekerja bila kami berdua sudah menikah kelak, aku harus belajar membiasakan diri untuk mengetahui apa saja yang menjadi kebiasaan-kebiasaan mas tony. Namun, semua keputusan mas Tony serahkan kepadaku. Baginya asalkan aku bisa bertanggung jawab sebagi seorang istri dan bisa mengurus rumah tangga dengan baik, tak masalah bila aku harus bekerja.

            Tak terasa, perjalanan sudah hampir sampai ke tempat tujuanku. Pengumuman dari  masinis KA pun terdengar, bahwa sebentar lagi stasiun yang akan aku tuju segera sampai. Detak jantungku berdegup kencang, kepala ini terasa pusing, aku hampir-hampir tak bisa menyeimbangkan langkahku. Aku merasa belum siap untuk bertemu mas Tony. Dia yang selama 2 bulan belakangan ini mampu mengusik hari-hariku dengan segala perhatiannya. Tanpa ragu, aku pun tulis sms kepada mas Tony:

“Mas, adik dah hampir nyampe stasiun kota bumi, tapi adik DEG-DEG annn!”

Selalu begitu, aku tak pernah bisa mengendalikan perasaanku bila akan bertemu dengan seseorang yang belum pernah aku temui sebelumnya. “STASIUN KA KOTA BUMI”, papan itu terlihat jelas. Aku pun sadar, bahwa stasiun ini akan menjadi saksi sejarah pertemuan pertama kalinya aku dengan mas Tony. Hufhhh! Aku harus benar-benar tarik nafas dalam-dalam untuk menstabilkan aliran darah berserta detak jantungku yang iramanya sudah mulai tak karuan ini. Ku putar bola mataku untuk mengitari pemandangan yang ada di sekitarku, aku hanya ingin menemukan sosok mas Tony yang katanya mau memakai seragam dinasnya, dengan alasan supaya perjalanan nya tak banyak terhambat hal-hal yang tidak penting di jalan. Aku duduk di sudut ruang tunggu stasiun sambil mencoba mengirimkan sms pada mas Tony dan berusaha mencoba menelponnya. Sms yang barusan aku kirimkan pun tak di balasnya. Tapi nada handphone nya selalu saja sibuk. Hatiku  cemas tak karuan rasanya. Degup jantung yang mulai tak beraturan iramanya pun mengiringi penantianku.

Sesekali memang ada seorang pria berseragam, berbadan tegap serta berambut cepak yang lalu lalang di hadapanku, tapi tak ada satu pun dari mereka yang menghampiriku. Aku coba menelpon mas Tony.

“Halooo….mas Tony….dah di mana?”

Sambil tak henti-hentinya aku celingukan mencari sosok mas Tony

“Iya dik, mas udah masuk stasiun, kamu di mana nya sih?”

“Aku ada di ruang tunggu pintu masuk mas”

Seketika itu juga aku melihat sesosok pria ganteng berambut cepak, berbadan tegap sedang mengangkat telpon dan dari intonasinya pun sepertinya aku mengenal intonasinya. Pria itu berbicara di telpon sambil celingukan. Apakah itu mas Tony? Hati kecilku langsung melontarkan pertanyaan ini, namun tunggu dulu kalau itu mas Tony, kenapa dia tak memakai seragam dinas seperti yang dijanjikan? akhirnya degup jantungku tak berdetak kencang lagi setelah aku menyadari hal itu. Aku pun kembali mencari sosok mas Tony, sambil celingukan ke sana-ke mari.

“Dikk…..kamu Anjani khan?”

Sekonyong-konyong suara itu ada di dekatku.

“Eeemmm….iya….”

Aku tak mampu lagi menutupi kegugupanku.

“Maaf, anda siapa ya?”

Aku menanyakan pertanyaaan bodoh kepada pria yang jelas-jelas aku pikir mas Tony tadi.

Tanpa terasa pipiku memerah, dan rasa-rasanya hawa pipiku pun menjadi panas! Aku tak menyangka bahwa wajah mas Toni ternyata se tampan ini. Padahal khan dia seorang tentara, tapi tak sedikitpun wajahnya menggambarkan garangnya sosok seorang tentara. Kulitnya sawo matang, rambut cepak, berbadan tegap dan wajah yang selalu tampak tersenyum walaupun sebenarnya dia tidak senyum. Hm….aku sedikit geli membayangkan wajah mas Tony yang barusan aku lihat.

“Dikk, saya mas Tony”

Suara itu membuyarkan lamunanku.

Jawab pria itu sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Mas Tony pun membawakan tasku menuju ke motornya….entah mengapa, aku merasa tidak canggung ketika pertemuan pertama kami ini. Aku langsung mengoceh panjang lebar, menanyakan kabarnya, menanyakan perihal dia yang tidak memakai seragam loreng seperti yang dijanjikannya. Alasannya, ternyata mas Tony lebih memilih mengenakan baju casual saja karena dia tidak ingin menimbulkan kesan kepada orang-orang bahwa dia seorang oknum militer. Hm…alasan yang cukup bijaksana…secara tidak langsung sebenarnya dia tak mau menyombongkan diri.

Aku semakin kagum dengannya. Sepanjang perjalanan menuju rumah kakakku yang ada di Kota Bumi, tak henti-hentinya kami mengobrol..panjang..lama..dan aku sangat menikmati kebersamaan ini. Apa pun aku bicarakan. Aku merasa tak ada jarak, walupun ini pertemuan pertama kami. Dia seperti orang yang sudah lama aku kenal. Aku begitu terhanyut dengan kedekatan ini. Kami hanya berhenti sekali di rumah makan, selebihnya kami melanjutkan perjalanan dan tiba di rumah kakakku yang jaraknya tak begitu jauh dari tempat tinggal tantenya. Kami menghabiskan waktu berdua unuk bercanda tawa, dan melanjutkan obrolan-obrolan kami yang tertunda tadi. Sedangkan kakakku tak bisa menghabiskan waktu bersama-sama dengan kami karena jadwalnya yang padat sebagai seorang guru baru di wilayahnya maka beliau masih harus banyak mensosialisaikan diri kepada guru-guru lain. Seperti halnya malam ini, beliau pun harus mendatangi rumah pak kepala sekolah untuk keperluan pekerjaannya. Dan untuk malam ini, aku dan mas Tony menghabiskan waktu hanya berdua saja. Dia banyak menceritakan tentang masa lalunya, tentang suka duka nya selama bertugas dan dinas di daerah pedalaman seperti liwa (Lampung Barat). Aku bahagia, baggga mendengar semua cerita-ceritanya.

            Hari-hari berikutnya aku sangat menikmati kedekatan kami berdua, namun hari-hari indah itu tak bisa bertahan lama rupanya. Aku merasakan ini, ketika mas Tony mengatakan suatu hal yang benar-benar membuatku shock berat. Ketika kami sedang menghabiskan waktu mengobrol di sebuah jalan kecil di Kota Bumi, mas Tony menanyakan suatu hal.

“Dikk… mas mau tanya, kamu bener-bener sayang gak sama mas Tony?”

“Sayang donk mas, emang kenapa?”

Tanyaku sedikit penasaran.

“Dikk, kamu udah dapet penjelasan belum dari mbak mu?”

Aku sedikit curiga akan pertanyaannnya barusan.

“Belum, memang ada apa mas?”

Dengan penuh tanda tanya di kepala, aku tanyakan hal ini

“Dikk, mas jadi gak tega omongin hal ini sama kamu”

“Mendingan mbak kamu aja ya yang bilang?”

Mas Tony mencoba menjelaskan

“Gak bisa mas…aku mau mas Tony aja yang bilang”

“Emang masalah apaan sih mas?”

Aku mencoba menatap mata mas Tony lekat-lekat

“Masalah di antara kita…kita bertiga dik”

Terdengar sedikit nada penekanan untuk hal ini.

Aku mencoba tenang, mencoba menghentikan aliran darah yang terasa begitu panas di kepala ku, dan entah mengapa seolah-olah aku tahu kalau ini masalah yang menyangkut perasaanku dan perasaan kakakku serta perasaan mas Tony.

“Dikk, mas Tony mau minta maaf….”

Mas Tony berusaha mencoba membuka keheningan.

“Sebenarnya selama ini yang ada di pikran mas, DAN YANG MAS TONY CINTAI ADALAH MBAK KAMU”

PLAKK! pipiku serasa ditampar keras-keras yang membuatku segera tersadar dari semua mimpi buruk ini. Jantungku seperti berhenti berdetak, dadaku sesak! Tanpa terasa air mata ini mengalir membasahi lekuk-lekuk pipiku. Hatiku terasa perih, pedih dan tak punya harapan lagi. Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa berkata dalam hatiku…ya TUHAN…apa yang telah terjadi padaku?

“Dikk…mas Tony tahu ini pasti sangat menyakiti hati kamu. Tapi inilah yang sebenarnya terjadi dik, cinta mas salah sasaran terhadap kamu. Kamu terlalu baik buat mas….dan mas sebenernya gak tega mengatakan hal ini sama kamu”

Lagi- lagi ku hanya bisa terdiam, merasakan sayatan-sayatan cinta mas Tony yang menyayat begitu dalam sampai ke dalam ulu hatiku.

“Dikk, kamu boleh tampar mas, kamu boleh hajar mas…karena selama ini mas hanya mempermainkan perasaan kamu. Tapi, mas juga tersiksa dik, karena mas dicintai oleh orang yang tidak mas cintai”

Mas Tony mencoba mengambil posisi di depanku dan tangannya mencengkeram erat kedua bahuku, memegang daguku dan mencoba mengangkat daguku untuk memperlihatkan wajahku yang berlinang air mata. Aku tak tahu harus berkata apa. Sementara ini yang bisa aku lakukan hanya bisa terdiam, itu saja.

“Dikk…….ayo kamu marah! Kamu ngomong apa aja boleh! Maki-maki aja mas Tony…..cowok paling brengsek yang udah berani nyakitin hati kamu!”

Mas Tony berusaha memberikan solusi untuk meluapkan emosiku, namun itu bukan sifatku. Aku tak pernah bisa meluapkan emosi yang meledak-ledak kepada siapapun.

Aku hanya bisa terdiam, menangis. Hanya hal itu yang bisa aku lakukan setiap kali menahan keperihan hidup ini.

“Ok mas, kalo emang itu keputusan mas Tony, adik terima kok”

Aku mencoba menguatkan hati untuk menutupi kepedihan hati ini.

“Mas, mungkin adik bukan wanita terbaik buat mas Tony, adik akan mencoba menguatkan hati adik. Kalaupun adik harus pergi dari kehidupan mas Tony adik akan terus mencobanya mas”

Tak terasa air mata ini mengalir begitu deras….hingga aku sulit bernafas. Dadaku sesak, dan semuanya terasa sangat berat.

Setelah pernyataan itu keluar dari mulut mas Tony sendiri, aku pulang ke Palembang tanpa berpamitan kepada mas Tony…aku menangis sepanjang jalan, dan bertekad bulat dengan segala niatku aku ingin melupakan mas Tony. Aku ingin menjadikan dia sebagai bagian terindah dari kenangan dalam hidupku. Aku kembali memulai segala aktifitas kerjaku, aku mau melupakan segala kepedihan hati yang aku bawa dari Lampung. Ini sudah bulan ketiga setelah pertemuanku dengan mas Tony di Lampung, semenjak itu aku menghapus nomor telponnya dan mencoba melupakannya.

Suatu hari handphone ku berdering, aku lihat nomor tak di kenal. sekarang aku merasa enggan untuk mengangkat telpon dari siapa pun, semangatku benar-benar turun.

“Halo….”

Aku menyapa orang di seberang

“Hai dik…..sombong banget kamu?”

Aku sepertinya mengenal suaranya

“Maaf, ini siapa ya?”

Aku mencoba mengenali suara orang seberang

“Dikk, ini mas Tony….gimana kabar kamu?”

Jantungku berdebar kencang, seketika aku merasa kosong. Aku tak bisa melakukan apa-apa.

“Wah…mas Tony, apa kabar? Adik baik-baik kok, sekarang dinas di mana mas?”

Aku mencoba menjawab pertanyaan yang diajukan mas Tony.

“Mas, masih dinas di liwa dek. kabar mas juga baik”

“Dik, mas ada kabar bahagia…. bentar lagi mas mau MENIKAH SAMA MBAK YULI” bukan nama kakak kandungku tentunya.

“Dia cewek penjual pulsa di deket tempat dinas mas.” Mas tony terlihat begitu girang ketika menyatakan berita ini.

Air mata ini kembali menetes membasahi pipi, tak terbendung lagi kesedihan ini….aku menangis sejadi-jadinya dan berusaha menjauhkan hp dari telingaku dan sengaja aku loudspeaker.

Aku menyandarkan bahuku di dinding sudut kamarku.

“Dia gadis yang benar-benar bisa mengerti mas dik, dia sudah bisa mengerti mas luar dalam”

Ya TUHAN…….sebenarnya apa maunya mas Tony? Aku benar-benar tidak tahu. Apakah dia belum puas menyakitiku selama ini.

“Oh…selamat ya mas….adik doakan, mudah-mudahan mas Tony sama mbak Yuli langgeng-langgeng ya” itu doa yang paling tulus untuk mas Tony.

“Iya dek, karena walaupun mas paksakan cinta mas buat mbak kamu. Pasti dia juga akan menolak mas.”

“Ok, aku ngerti mas. Sekali lagi selamat ya” kusudahi percakapan konyol ini.

Kepalaku pusing, mataku sembap aku tak kuasa menahan semua rasa sakit hati ini. Tapi satu hal, aku harus bisa terima, karena walaupun nantinya aku hidup bersama mas Tony, aku tak kan pernah bisa merasa bahagia. Karena bukan aku yang dicintainya, melainkan mbakku. Aku tidak akan pernah bahagia hidup bersamanya , karena dia tidak ada sedikit pun perasaan cinta kepadaku. Aku hanya bisa berdoa mengucapkan terima kasih karena mas Tony sudah mengajarkanku bagaimana rasanya mencintai, dan dicintai. Aku pun pasti akan berdoa semuanya yang terbaik buat mas Tony. Terimakasih mas Tony.

Joomlart