Bidadari Kalbu
Dahulu kala aku masih di surga
belajar dan bermain dengan segala riang yang ada
sampai suatu ketika Tuhan menurunkanku ke persada
dalam wujud bayi mungil tanpa dosa
Sejenak kebimbangan menyergapku
tak ingin kutinggalkan firdaus yang kurindu
belum siap jika tak lagi bertemu Tuhanku
sejuta tanya bermunculan di kalbu
Siapakah yang akan menjagaku nanti
Siapakah yang akan membimbingku seperti selama ini
Sungguh tak rela hati melupakan kehidupan surgawi
aku takut tak kan bisa kembali
Janganlah kau takut atau ragu
akan ada seseorang yang selalu menyayangimu
bahkan dia rela bertarung nyawa demi keselamatanmu
kudengar suara Yang Mahakuasa menghibur daku
Siapakah dia, Tuhan
aku bertanya tak kuat menyimpan penasaran
walau kutahu Tuhan dapat menemukan apa pun yang kusembunyikan
Dialah bidadari dalam kehidupan
di telapak kakinya terukir surga dambaan
Maka turunlah aku ke bumi
berwujud bayi mungil menyejukkan hati
kurasakan tangan lembut menyentuh jemari
kasihnya meresap ke dasar sanubari
Kuakui selama beberapa waktu
aku tak habis menggerutu
karena bidadari tak bersayap itu
hampir setiap hari memarahiku
Malam ini aku sendiri
tiada lagi bidadari itu di sisi
aku pun bertanya dalam sepi
Tuhan, dapatkah kuraih firdaus dambaan insani
Karena saat ini baru kusadari
mengapa Tuhan memilih seorang bidadari
untuk menemaniku dalam hidup tak abadi
sebab dialah pembuka pintu surgawi
Puisi Malam
Malam tiba menghampiri bumi
bentangkan sayap menyelimuti cakrawala
dan senja pun perlahan berlalu
Sayup terdengar desah dalam sunyi
dari ranting dan dedaunan yang menyapa
menyambut malam datang bertamu
Dari angin sahabat sejati
ia bersenandung penuh cinta
dan kelamnya malam tak selalu bermakna sendu
Selalu saja ada yang mau berbagi
tiada hiraukan pekat yang tercipta
alunkan dendang puisi penuh rindu
Angin menabur benih dalam sepi
bumi hanyut terlena rayuan angin menerpa
terlahir dari rahimnya sebait syair merdu merayu
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Puisi-puisi Judita Sari Permadi **)



































