OPERA
NEGERI AWAN
Oleh: Adhi P. Hermawan
Semalam, Sukri baru terlelap pukul tiga pagi. Hampir satu minggu ini, Sukri semakin akrab dengan kaum penganggur di lingkungan kostnya. Sukri merasa senasib sepenanggungan dengan mereka. Tapi lebih beruntung Sukri. Dulu Sukri hanya sempat menganggur satu tahun saja, sedangkan penganggur-penganggur lain ada yang sudah hampir tiga tahun ini tak mendapatkan pekerjaan. Pun sesekali mereka bergantian berjaga parkir kendaraan di sepanjang jalan Malioboro. Hasilnya lumayan banyak, dan pundi-pundi uang parkir terisi penuh, tapi itu dibagi-bagi lebih dari sepuluh orang. Tidak bisa dijadikan pekerjaan tetap. Malam mereka jadikan siang, agar di siang hari mereka dapat tertidur pulas tanpa berpikir keras untuk mencari kerja. Karena nyaris tak ada peluang untuk pelamar kerja berijazahkan SMA. Ijazah mereka tak lebih hanya sebagai piagam penghargaan lomba cerdas cermat di acara ‘kelompencapir’ TVRI, di era pertelevisian dahulu kala.
Jam setengah tujuh pagi Sukri masih mendengkur di atas kasur empuk. Kokok petok ayam jago tak menggugah dirinya dari mimpi di pagi buta tadi. Entah apa yang tengah diimpikannya di alam sana. Tak ada yang tahu selain dirinya sendiri. Yang pasti sudah satu bulan ini, Sukri sedang jatuh cinta pada seorang janda kembang tanpa anak, tetangga rumah kostnya.
Pemuda tamatan SMA itu baru saja dipecat dari pekerjaannya sebagai cleaning service di salah satu tempat karaoke di kota Yogyakarta, dua minggu lalu. Kini, pemuda pengangguran itu tak kunjung putus asa dengan hidupnya, meski kebutuhan hidup terus mendesaknya. Sedikit penyesalan terkadang menghinggapi diri Sukri. Sukri dipecat karena terlampau jujur.
Suatu malam saat Sukri sedang membersihkan toilet di tempatnya bekerja, ia menemukan sebuah dompet milik salah satu pengunjung yang ceroboh menaruhnya. Lantas, ia kembalikan pada pemiliknya. Padahal isi dalam dompet itu dapat memberinya makan selama satu bulan penuh di Kota Gudek ini. Kurang lebih satu juta lima ratus ribu, uang dalam dompet itu.
Dengan sifat ’sok pahlawannya’ Sukri mendatangi alamat pemilik dompet itu. Rumah besar dan mewah ia dapati. Sukri masih berdiri di depan pintu berdaun elit. Diketuknya pintu itu. Seorang wanita muncul dari dalam rumah mewah itu. Penuh curiga dengan kedatangan pemuda berwajah ’miskin’, si wanita ber-make-up tebal itu pun mengiterogasi untuk apa Sukri datang ke rumahnya di sore hari.
”Anda siapa dan ada perlu apa datang kemari?” dengan ketus wanita glamour itu bertanya.
”Maaf Bu.. Saya hanya ingin mengembalikan dompet ini. Saya mendapat alamat sini dari ktp di dalam dompet ini..” jawab Sukri gemetar sambil menyodorkan dompet kulit buaya warna hitam.
Diamati benda itu dan dibedah isinya. ”Benar.. Ini milik suami saya. Dari mana anda dapat ini?” wanita itu mulai menampakan kilau senyumnya.
”Dari tempat karaoke di daerah Malioboro, Bu..” dengan kejujuran yang dimilikinya, Sukri menjawab bangga.
”Hah.. Karaoke ?!” si nyonya besar pemilik rumah terkejut. Mimik wajahnya tak keruan.
Sukri dipersilakan masuk ke dalam rumah megah itu dan disuruhnya duduk di sebuah sofa empuk nan eksotik bentuknya. Sama sekali bokong pemuda miskin itu belum pernah duduk di atas benda seperti itu. Si nyonya pun duduk, kemudian menyuruh seorang pembantunya menyuguhkan air minum beserta makanan kecil. Bagai tamu terhormat Sukri diperlakukan. Istri dari suami pemilik dompet itu pun kembali memeriksa isi dompet dan menggeletakan seluruh isi dompet itu di atas meja kaca.
”Mudah-mudahan masih utuh, Bu. Tidak satupun isi dari dompet itu saya ambil..”
”Iya. Saya percaya pada anda, kok.. Saya hanya ingin memeriksa isi dompet suami saya, terus terang saya terkejut suami saya pergi ke tempat karaoke sendirian. Biasanya ia selalu mengajak saya.”
Tiba-tiba wajah si ibu muda yang cantik itu berubah menjadi merah. Tampaknya ia shock saat jemarinya dan matanya menyaksikan sebuah benda kecil terbungkus plastik. Satu buah kondom yang meringkuk di sela-sela dalam dompet suaminya, si istri dapati. Sukri yang menyaksikan hal itu menjadi risih.
Air minum sudah datang, namun belum dicicipi, Sukri buru-buru dikasih uang pecahan seratus ribuan dua lembar oleh si istri. Sukri menolaknya, tapi si istri mendesaknya terus. Terpaksa Sukri menerima uang tanda terima kasih itu. Sukri melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Tapi langkahnya tercekat oleh seorang pria gagah dan berdasi di depan pintu. Sukri sudah menduga pasti itu adalah suaminya. Baru beberapa langkah Sukri mendekati gerbang, suara-suara jeritan dan tamparan pipi terdengar. Ya, pasangan suami-istri itu bertengkar hebat.
***
Keesokan harinya setelah peristiwa di rumah orang kaya itu. Tak ada angin tak hujan, Sukri di suruh menghadap managernya. Sebuah amplop putih melayang di wajahnya. Ternyata amplop itu berisikan surat pemecatan dirinya.
”Sebagai karyawan di tempat ini, seharusnya kamu tidak usah sok baik hati dan sok pahlawan!” bentak manager pada Sukri.
”Saya salah apa Pak?” kata Sukri heran.
”Salahmu adalah..karena kamu dilahirkan sebagai orang bodoh, tolol dan jujur..! Gara-gara kamu saya kena damprat oleh salah satu pemilik saham di tempatmu bekerja ini! Gara-gara kamu juga, rumah tangga beliau terancam runtuh.” sungguh telak dan menyakitkan hati Sukri apa yang dikatakan managernya, serta juga mengundang tanya.
”Maksud Bapak, hanya karena saya mengembalikan dompet yang tertinggal di toilet tempo hari? Benar Pak, saya hanya ngembalikan saja kok, dan isinya pun utuh. Saya tidak berani mengambil sesuatu yang bukan milik saya, Pak..”
”Lebih baik dompet itu kamu buang! dan isinya kamu makan sendiri, dari pada harus dikembalikan pada istri Pak Sam!”
”Ooo, jadi namanya Pak Sam ya..” kata Sukri lugu.
”Dasar tolol! Kamu tahu tidak, jika saya sedang memarahi kamu! Apa kamu juga sudah paham dengan kesalahanmu?!” manager Sukri semakin geram dan mungkin ingin segera menikam Sukri, pemuda lugu itu.
”Iya Pak..saya paham. Lain kali, jika saya menemukan dompet yang terjatuh di toilet, saya tidak mengembalikannya. Saya akan mengambil dompet itu dan isinya untuk saya..” Sukri merunduk.
”Tidak usah lagi..! Karena mulai sekarang kamu saya pecat! Silakan mencari pekerjaan lain yang membutuhkan orang tolol dan lugu seperti kamu! Silakan keluar..” manager itu mengusir Sukri keluar dari ruang ber-AC itu.
Dengan hati yang sakit dan hancur, Sukri berjalan tertatih meninggalkan tempat bekerjanya itu. Untung saja, selama bekerja Sukri selalu menyisihkan uangnya untuk menabung. Jadi setelah dirinya dipecat, masih ada uang untuk membeli amplop, kertas dan alat-alat tulis lainnya untuk melamar pekerjaan, juga makan.
Sebenarnya rencana tahun ini, Sukri akan membawa seorang perempuan pujaan hatinya kepada orang tuanya di desa. Orang tuanya selalu meminta Sukri segera menikah. Selain filosofi jawa, juga kehidupan di kota besarlah yang mendorong orang tua Sukri untuk selalu menyuruh anak lelakinya itu segera menikah. Kata keduaorang tuanya, untuk menghindari dosa dunia. Sukri menurut saja, karena itu piliha hatinya jatuh pada seorang wanita cantik yang tinggal di dekat rumah kostnya. Meski cantik, anggun dan santun, tapi ia adalah janda. Tak apalah seorang janda, yang penting saling mencintai, pikir Sukri selalu yang sudah kesengsem olehnya.
Sayang seribu sayang, Sukri harus mengurungkan niatnya karena kehilangan pekerjaan. Dalam hati kecilnya Sukri mengeluhkan sifat jujurnya.
”Ini semua karena Bapakku yang selalu menyuruhku berbuat jujur. Coba saja, jika dulu aku disuruh berbuat curang pasti aku tidak akan dipecat, dan aku sudah bisa membelikan si Wati sebuah cincin emas dari uang yang ada di dompet itu..” keluhnya suatu hari.
Sebenarnya, Sukri sudah tahu jika Wati hendak dijadikan pendamping hidupnya, itu tak akan disetujui oleh Bapaknya. Tapi kali ini, Sukri tak mau lagi menurut pada orang tuanya. Apa lagi Sukri terlanjur cinta dan sayang pada Wati. Ia coba memberontak.
***
”Kri..Sukri..!” teriak seorang teman kostnya dari balik pintu, mencoba membangunkan Sukri. ”Ada orang tuamu datang..”
Sukri masih bermalas-malasan. Namun telinganya langsung panjang ketika mendengar orang tuanya datang. Sukri kelimpungan, takut dimarahi jika ketahuan dirinya baru bangun di siag hari. Bergegas, Sukri menuju kamar mandi. Dibasuhnya wajah kusut dan tak lupa gosok gigi. Wajah sudah beres, tinggal berpakaian. Setelah itu ditemuinya kedua orang tuanya yang duduk di ruang tamu lantai bawah.
Sukri sungkem pada kedua orang tuanya. Diciumnya tangan mereka. Belum ada basa-basi, pertanyaan monoton disuguhi pada Sukri.
”Bagaimana Nak, dengan calon istrimu? Bukankah beberapa minggu yang lalu kamu kirim surat ke Bapak dan janji akan mengenalkan calonmu?”
Gelagepan Sukri dibuatnya, tak tahu harus menjawab apa. Bingung setengah mati. Terpaksa Sukri berterus terang, tapi memang sedari awal Sukri hendak memberontak.
”Sudah ada Pak, dia tinggal di sekitar sini kok.”
”Bagus. Bisa kami menemuinya hari ini?”
”Ooo..bisa saja Pak. Tapi...tapi Pak..”
”Tapi apa?” sergah Bapaknya.
”Tapi..tapi dia janda Pak. Tapi ndak punya anak kok, Pak..” kata Sukri, jantungnya berdetak kencang.
”Janda?! Kamu itu bujang Le. Le..tole..masa anak bujang memperistri janda!?” kata Bapaknya menyayangkan.
”Ndak apa-apa toh, Pak. Toh, janda juga manusia. Saya sudah kadung gandrung, Pak, Bu..” Sukri terus nyerocos.
”Le..nurut opo omongane Bapakmu..Ojo ngelawan.. Nanti bisa kualat!” kata ibunya membela sang suami.
”Bu..aku iki wis dewasa..Aku tresno karo Wati. Aku yo kapok nurut omongane Bapak. Bapak dulu pernah cerita ke saya, kalo orang jujur itu pasti sukses dan makmur. Tapi apa, Bu.. Gara-gara saya kelewat jujur, akhirnya saya dipecat dari tempat kerja saya..” jelas Sukri.
”Lho..lho..kok iso ngono, Nak?..” tanya bapaknya heran.
”Gara-gara saya ngembalikan dompet milik salah satu tamu yang tertinggal. Ehh..malah bikin runyem rumah tangga orang. Dan akhirnya manager saya mecat saya, Pak. Dengan alasan saya kelewat jujur..”
Bapak dan ibunya yang mendengar kisah pilu anak lelakinya itu, terbengong-bengong dan saling bertukar pandang. Harus menjelaskan hal apa lagi pada anaknya.
Tak lama kemudian, sang kepala keluarga membuka mulutnya dan berkata ”Nak, jujur itu harus di taruh pada tempatnya, lihat kondisi dan situasi. Memang Nak, kejujuran hanya berlaku di ’Negeri Awan’. Negeri pewayangan yang indah, makmur dan sejahtera, gemah ripah loh jinawi. Itu tak akan bisa terwujud jika semua manusia terus terperangkap pada nafsu duniawi..”
”Ohh..gitu toh, Pak. Ya sudah Pak. Tapi, Bapak setuju kan kalo saya menikah dengan Wati?”
”Ya setuju saja, asal kamu cari kerja dulu aja sana.. Bapak dan Ibu juga tidak mau mendesakmu lagi, jika keadaanmu masih seperti ini. Nanti anakmu mau dikasih makan apa? Haha..”
”Terima kasih Pak, Bu..Ayo, kita ke rumahnya Wati. Mumpung ini juga hari minggu, pasti Wati ada di rumah..” ajak Sukri.
Mereka akhirnya menuju rumah janda kembang itu, calon istri Sukri. Bapak dan ibu Sukri akhirnya bertemu dengan calon menantunya. Setelah melihat anggun wajahnya dan lembut tutur kata Wati. Mereka setuju-setuju saja. Sukri bertambah semangat mencari kerja demi masa depan keluarga kecil yang akan dibangunnya kelak. Satu hal telah membuka pikiran lugu Sukri atas tragedi dompet tempo hari, yang sudah membuatnya kehilangan pekerjaan.
”Berarti aku harus teliti pada isi dompetku dan nggak boleh meninggalkannya di toilet karaoke, saat aku sudah berkeluarga dan sudah menjadi ’big boss’ suatu hari nanti..Haha..” bisik hati Sukri pada suatu masa.
-SELESAI-
Di Malang, Akhir Bulan Februari 2010, saat lapar.
Teruntuk: Bangsa yang Jujur
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
OPERA NEGERI AWAN


































