Sungguh, Aku Cinta
Oleh: Tyara Nurani
“Sudahlah, aku bukan bayanganmu! Belum puaskah selama ini membuatku hancur?!” Rhama terperangah tak percaya mendengar amukan itu. Hatinya tersentak , tak mengerti.
“Ada apa sebenarnya ini, Dhan?!” Lelaki yang bernama Dhani itu tersenyum sinis.
“Jangan ganggu aku, please! Aku tak ingin kamu ganggu!” Meski tak mengerti dan masih menyimpan berjuta tanda tanya di benaknya, Rhama mengikuti perintah adik semata wayangnya. Ia mencoba mengerti mungkin Dhani sedang memilki masalah tersendiri dan tak ingin ia tahu.
Dhani terpekur di meja kerjanya. Ingin rasanya ia membanting semua yang ada di hadapannya atau memukul-mukul tembok dengan tangannya untuk meluapkan segala kekecewaannya.Betapa tidak, Ia yang terlahir sebagai putra bungsu dari dua bersaudara, yaitu Kakaknya. Sejak ia menatap dunia hanya seseorang yang selalu ada untuknya. Teman bermain, bermain dan pembela di kala ia bertengkar dengan temannya. Bahkan hingga ia dewasa dan mendapat pekerjaan, Rhama selalu ada untuknya. Sang kakak tak pernah meninggalkannya. Sesungguhnya ia bahagia mendapat cinta yang begitu indah dari kakak semata wayangnya itu. Namun, ucapan-ucapan kliennya yang selalu menganggapnya adalah kakaknya, bahkan atasan dan semua teman kerjanya tak pernah menyebut namanya dengan benar. Ia selalu menjadi bayang-bayang Rhama.
Awalnya ia tak menggubris semua ucapan itu. Hingga suatu ketika ia dihadapkan dengan proyek besar. Dan kali ini kliennya adalah professional ternama di negrinya. Ia sungguh senang, tapi rasa senangnya tak berlangsung lama ketika ia menjalani proyek tersebut.
“Pak Dhani, very well! Sungguh senang berkerjasama denganmu. Ternyata benar dugaan saya, anda sangat mirip dengan Rhama! Saya juga pernah bekerjasama dengannya. Ia sungguh orang yang menakjubkan!” Senyumnya menghilang seketika. Ia tersentak, Lagi-lagi ia menjadi bayangan Rhama!
Dalam diam tanpa terasa buliran bening itu mengalir deras membasahi pipinya. Sungguh pilu dan perih rasanya menjadi bayangan orang lain. Semua orang tak pernah memandangnya sebagai dia, Dhani. Semuanya tak pernah melihat seberapapun besar usahanya untuk menjadi terbaik. Dan selalu saja ia menjadi bayangan kakaknya, Rhama.
***
Malam telah menjemput hari, Dhani masih termenung di kantornya. Ia begitu enggan untuk pulang dan bertemu dengan sosok itu. Sosok yang kini begitu mengesalkannya.Di waktu yang sama, Rhama telah menanti di ambang pintu rumah. Menyambut adik tersayangnya pulang dan meredamkan segala gundah sang adik. Ia yakin Dhani sedang penat dan lelah dengan pekerjaannya hingga adiknya itu membentaknya dan tak menginginkan kehadirannya. Menit pun berganti menit dan jam pun bergulir seiring waktu yang tak sabar menyambut mentari esok hari. Rhama masih setia menanti kepulangan adiknya. Tiba-tiba Mama melintas dan memandang heran pada putra sulungnya yang tak beranjak dari tempatnya.
“Sedang apa kamu Rham?! Ini sudah malam! Kamu kan besok harus ke kantor.” Rhama tersenyum.
“Rhama lagi nunggu Dhani pulang, Ma!” Sang mama menggeleng-geleng melihat tingkah putranya yang begitu menyayangi adiknya.
“Sudahlah Rham, Dhani bukan anak kecil lagi! Dia tahu kapan saatnya harus pulang. Mungkin dia masih sibuk di kantor, jadi belum pulang! Istirahatlah, untuk kesehatanmu!”
“Biarlah Ma, mungkin sebentar lagi Dhani pulang.”
“Kenapa tidak kamu telepon dia? Biar kamu gak nunggu kayak gini!” Rhama segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi adiknya.
Di sebuah ruangan dalam gedung perkantoran elit di Jakarta, suara dering ponsel memecahkan keheningan. Terus berdering hingga bosan dan mati. Sang pemilik ponsel tak mengubrisnya dan tetap konsentrasi pada pekerjaanya.
Rhama tak putus asa, ia kembali menghubungi nomor adiknya. Tak di jawab. Namun ia tetap mencoba hingga baterai ponselnya habis dan ia harus men-charge ponselnya. Ia mulai bimbang.
Kembali ia ingat kejadian sore itu. Kemarahan adiknya pasti bukan tanpa sebab. Dan ia tak tahu apakah gerangan penyebab amukan adiknya tadi sore. Tak biasanya Dhani membentaknya dan mengusirnya. Padahal hampir setiap hari ia datang menemui adiknya di kantornya. Dan selalu di sambut dengan senyuman dan tawa riang apapun masalah yang membebani sang adik. Sungguh ia tak menyangka kejadian sore itu. Ia mencoba mengevaluasi diri.
***
Minggu berganti minggu. Waktu bergulir tanpa sempat memberitahu Rhama perihal sikap adiknya. Sejak hari itu Dhani tak pernah menyapanya, jangankan menyapa, pulang ke rumah saja langsung ngeloyor dan tak keluar kamar hingga keluar untuk bekerja. Tak ada lagi hari-hari ceria atau bias keakraban yang biasanya hadir di rumah itu. Rhama yang biasanya enerjik dan selalu bersemangat kini tampak tak bergairah menjalani hari-harinya. Sebaliknya, Dhani semakin terlihat semangat menunjukkan siapa dirinya. Dan begitu benci bila ada orang yang menyamakannya dengan Rhama.
Sang Mama menjadi kelimpungan melihat tingkah kedua putranya yang tak biasa. Sudah hampir satu bulan keduanya tak saling menyapa. Bahkan saat Rhama memulai untuk membuka keakraban, Dhani selalu menghindar. Wanita paruh baya itu seolah menangkap sinyal permusuhan di sikap putra bungsunya pada sang kakak. Meski tak begitu sebaliknya.
***
Rhama mendapat SK kepindahtugasan ke luar negri dari atasannya. Ia pun menunaikan tugas tersebut meski dengan berat hati. Ia masih tak mengeti akan sikap adiknya. Dan ia selalu menunggu jawaban dari semua ini. Namun ia harus pergi untuk beberapa waktu.
Di saat yang sama, Dhani sedang makan siang bersama tema kantornya. Ia sibuk mendiskusikan hasil laporan proyek terbarunya.
“Dhan, kok tumben abangmu gak ke sini lagi? kan biasanya kalian makan siang bareng-barehampang.” Dhani tersenyum datar.
“Dia sibuk.” Alasannya.
Entah mengapa ia merasa begitu . Terbayang kebiasaannya makan siang bersama dengan sang kakak sambil mendiskusikan pekerjaan masing-masing. Kali ini ia mulai merasa rindu. Rindu kembali bersama melalui hari-hari dengan Rhama.
“Oya Dhan, waktu itu pas kamu dapet proyek bareng Pak Budiman itu abangmu loh yang promosiin!”
“Masa’ sih? Tau darimana?!”
“Waktu itu aku gak sengaja denger obrolan Pak Budiman sama Bos kita. Dia bilang pengen kerjasama sama kamu, soalnya kamu berkompeten banget. Gitu!” Bagai di sengat listrik, itulah yang ia rasakan saat mendengar cerita dari sahabatnya. Ternyata dia salah menduga.
Diam-diam perlahan ia begitu ingin bertemu Rhama. Mencium tangannya dan memohon ampun atas segala sikapnya.
***
Rhama pamit pada kedua orang tuanya. Ia pun pergi tanpa memberitahu Dhani. Ia sadar, adiknya memang tak ingin diganggu olehnya. Dan ia menitipkan sesuatu pada sang mama untuk Dhani setelah sang adik pulang.
Dhani kembali termenung mengingat sikapnya selama ini. Sikapnya yang telah melukai perasaan kakak semata wayangnya yang tak tahu sebab dan pangkal masalah yang menimpa dirin. Ia begitu menyesali perbuatannya. Ternyata Rhama selalu menyayanginya, selalu memperhatikannya dan tak pernah menghancurkan hidupnya. Bahkan sang kakaklah yang mempromosikan dirinya untuk mendapat job-job yang ia inginkan. Rhama tak pernah memonopoli hidupnya, Rhama tak pernah menjatuhkannya.
Ia pun bergegas pulang dan begitu ingin memeluk sang kakak tercinta. Ia begitu merindukan Rhama, merindukan senyuman dan supportnya.
“Ma, Bang Rhama mana?! Kok hari gini belum pulang?!” Tanyanya setelah kelimpungan tak menemukan sosok kakaknya tercinta.
“Abangmu ke Aussie! Dia pindah tugas ke sana sampai tahun depan!” Dhani terperangah mendengar jawaban sang mama. Pupus sudah keinginannya untuk memeluk dan mecium tangan sang kakak.
“Nih, ada titipan dari Abangmu sebelum berangkat!” Lalu ia membawa bingkisan itu ke kamarnya dengan raut kecewa.
Ia buka bingkisan yang ternyata vcd rekaman sang kakak. Ia pun menyetelnya. Tampaklah wajah bening itu. Wajah yang begitu ia rindukan.
“ Halo Dhani, adikku sang manajer sukses! Bagaimana pekerjaanmu ? Semoga baik-baik saja. Dhani kan hebat, iya kan?! Gak ada orang yang paling hebat selain Dhani karena Dhani adalah Dhani. Dan Dhani adalah masterpiece keluarga. No one else can be like u! Dhan, maafin abang ya kalo abang ada salah. Abang gak pernah bermaksud menghancurkan hidup kamu. Abang juga gak pernah berniat untuk mengganggu kamu. Dhani mau kan maafin abang?! Oya, video yang waktu itu kita rekam di handphone abang, sudah abang save di sini. Kalo kamu kangen sama abang tonton aja ini ya! Bae-bae ya adikku yang ganteng! Do the best! U can be what u want, bro! Cayo…semangat!!”
Lalu berganti dengan rekaman mereka. Ia ingat, mereka iseng merekam ini sekitar dua bulan lalu. Berputarlah slide demi slide.
“Ngapain?” Tanyanya ketika Rhama masuk ke kamarnya.
“Cuma say hello doang!” Rhama tersenyum.
“Hello.” Balasnya tersenyum. Lalu Rhama duduk di sisinya. Mereka berpose seperti sedang berfoto close up.
“Ternyata benar ya, kamu mirip banget sama aku!”
“Gak, cakepan juga aku! Hehe”
“Ngaco kamu!” Tiba-tiba Dhani mengecup pipi Rhama.
“OMG! Since I was born, it was the first time that ever happened!” Dhani tertawa penuh kemenangan. Ia menitikkan air mata kerinduan saat menyaksikan video itu. Betapa ia meridukan kebersamaannya dengan Rhama. Betapa ia begitu ingin kembali bercanda tawa dengan sang kakak tecinta. Kini ia sadar, betapa ia mencintai sang kakak semata wayangnya itu. Bias kemarahan dan kekesalan itu seketika hilang dari hatinya.Sungguh, aku cinta kamu, bang! Batinnya. Melodi kerinduan mulai bernyanyi untuknya. Sang adik nakal yang tak menyadari betapa luas dan dalamnya cinta dan kasih sayang sang kakak.
03 March 2010
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
sungguh, aku cinta!


































