<< Cermin (Cerita Mini) Surat Untuk Kekasih Hati  >>

Surat Untuk Kekasih Hati

E-mail Cetak PDF

Rasa-rasanya, baru sejenak yang lalu kumengenalmu. Dari simpulan kata yang saling mengikat makna. Tapi ingatanku telah merekam, setidaknya sudah bertahun lalu kita bertemu. Dua bentuk raga yang berisi jiwa.

Kita belum pernah bertemu semenjak kita saling menyapa pada oktober yang ceria, seingatku. Tapi setelah itu jiwa-jiwa ini saling bertemu. Dari untaian kata yang terlukis. Dari ucapan yang tertera dalam media. Dari percikan pikiran yang tertempel dalam kawat elektronik. Yang kesemuanya terenkripsi dengan rapi dalam satuan bit yang karena sebab itu, aku bisa membaca pikiranmu, jiwamu. Di sini, saat ini. Dalam suatu kondisi yang menggerakkan syaraf motorikku untuk meneruskan pikiranku, jiwaku. Mengenkripsinya, melukisnya, sehingga nanti kau bisa membacanya. Begitu kurang lebih kita bertemu, kita berbagi. Bukan raga kita, bukan fisik kita. Tapi lebih dari itu, jiwa kita berusaha saling memahami. Saling mengerti mengenai ciri khas dari masing-masing diri. Sehingga jika kita berjumpa dalam koloni atau perkumpulan orang yang berbeda-beda dengan cepat kita saling mengetahui. Kita telah menciptakan nomenklatur masing-masing kita. Membuatnya sebagai pembeda dengan jiwa-jiwa yang lain. Itu berarti, kita saling memahami.

Adalah sangat musykil menyatukan raga dengan jiwa yang tidak padu. Layaknya siklus bintang, engkaulah Supernova itu. Sedangkan aku tak lebih dari katai yang cahayanya sesenggukan, temaram dalam gulita angkasa yang pekat. Aku cuma berdenyut. Kadang terlihat terang tapi kebanyakan redup karena kekurangan bahan bakar. Malah, dalam titik nadirku, aku terlihat sama pekatnya dengan ruang hampa angkasa. Terlihat kontras denganmu. Yang bersinar terang dengan energi yang takkan habis dari dalam dirimu. Engkaulah energi itu. Menggerakkan benda di sekelilingmu menjadi ber”gaya”. Karena massamu yang teramat massif. Yang jika benda berukuran kecil saja didekatkan kepadamu, benda tersebut memiliki gaya ikat denganmu. Apalagi jika jarak denganmu semakin diperdekat.

Aku tak bermaksud naïf jika menanyakan suatu hal kepadamu. Karena engkau lubuk akal tepian ilmu. Sebuah perpustakaan berjalan. Insan kamil. Atau istilah lain-lah yang sejenis dengan itu. Dan jika kulihat bagaimana dirimu bersosialisasi dengan sekitarmu, maka kutemukan harmonisasi hubungan dalam ikatan yang unik. Sedikit polemik dan intrik, tapi artistik dan tentunya sesuai dengan kaidah yang sudah dipegang teguh.

Jika ternyata jiwaku dalam mengenkripsikan rasanya ke dalam satuan bit yang bisa terbaca ini agak sukar dibaca, jangan lantas berseru dan meneka-nerka maksud lainnya. Tanyalah kepada jiwamu, benarkah tulisan yang dibaca olehmu berarti sama dengan maksud jiwaku. Benarkah dekripsi yang telah kaulakukan. Merubah citra dalam layar elektronik yang ada di hadapanmu menjadi satuan-satuan pesan yang diteruskan secara kimiawi melalui saraf penglihatanmu ke otak. Yang kemudian diinterpretasikan oleh jiwamu.

***


Lagi-lagi, aku kehabisan kata untuk menceritakan tentangmu. Terlalu banyak yang bisa kusampaikan. Bahkan, untuk mendeskripsikan bagaimana caramu berkedip, butuh tiga paragraf untuk menceritakannya. Tentang inkripsi rasaku sebelumnya, rupanya kau sudah mendekripsinya dengan cukup tepat. Aku bisa menangkap dari suluran-suluran rasa yang muncul dari ucapanmu. Jika kuperhatikan, semua yang mucul dari pemikiranmu tidak ada hentinya jika kita perbincangkan. Serupa gelombang sinusoidal yang terus menerus membuat air laut tetap bergelinjang. Sehingga benda-benda yang hanyut di atasnya bisa terbawa dari satu pulau ke pulau lainnya. Serupa itulah apabila kita saling bertukar pikiran. Cuma seringkali, untuk berpindah pulau dari topik satu ke lainnya memang membutuhkan usaha untuk menghindari karang atau dermaga yang terlalu terjal.

Jika kau perhatikan, sesuatu yang dengan susah payah kita dapatkan yang kemudian kita dapat meraihnya, maka akan muncul kebahagian dan rasa untuk terus menjaga apa yang sudah kita dapat tadi. Perjuangan yang terjadi beratus-ratus tahun untuk membentuk gugusan pantai pasir putih yang berasal dari serpihan kecil karang-karang dan biota laut bercangkang kapur lainnya. Perjuangan yang sama yang kau lakukan untuk merangkai mozaik mimpi kehidupanmu. Mozaik yang terdiri dari serpihan-serpihan mimpi-mimpimu, baik mimpi yang berasal dari desiran perasaan atau mimpi besar sekeras batu karang, hingga kau butuh kekuatan dan waktu lama untuk menaklukkannya.

Tapi, apa yang harus kuragukan padamu. Justeru karenamulah aku tertuntun menuju mimpi-mimpiku. Laksana mercusuar sebagai petunjuk bagi nelayan-nelayan yang tersesat di lautan. Setiap mimpimu, keinginanku. Setiap desiran rasamu membuatku berpikir paling tidak tiga kali untuk menanggapinya.
Engkau lautan biru, aku lautan hijau. Semua sebenarnya telah tampak dari permukaan. Siapa-siapa orang hebat yang berpemikiran dalam, dan orang yang hanya bisa mensintesa rasa yang berpemikiran mengikutimu. Orang dengan cepat menebak, lautan birulah yang lebih dalam dan lautan hijaulah yang lebih dangkal. Tapi, orang-orang cenderung menyukai lautan hijau. Karena mereka melihat indahnya terumbu karang yang tersinari matahari. Mereka lebih suka melihat sintesa rasaku atasmu. Tapi, janganlah kau khawatir. Peneliti dan ilmuwan akan suka kepadamu. Meneliti kedalaman berfikirmu dan menemukan objek-objek yang tidak ada padaku.

Akupun ingin menjadi lautan biru. Mungkin menunggu momen kekuatan tektonik atau pergeseran lempeng samudera yang menjadikanku lebih dalam, lebih kaya pemikiran, lebih biru. Sama sepertimu.

Comments 

 
0 #2 Muhammad Nurcholis 2010-06-12 06:38
terima kasih..

masih banyak hal yang mesti dipelajari, masih banyak pikiran yang mesti dituangkan dalam tulisan, masih banyak dosa yang mesti dihapus, masih banyak cita-cita yang mesti diciptakan, masih banyak doa yang harus dipanjatkan, masih banyak cinta yang harus disampaikan, dan masih banyak hal banyak lainnya yang mesti dilakukan sebagaimana mestinya.

oleh karena itulah saya hidup, dan masih berusaha untuk menulis..
mari bersemangat menulis.. :)
 
 
+1 #1 Chairul Saleh 2010-06-10 08:11
bagus ... I Like it.

diksi nya tidak membosankan. paduan imajinasinya logis. dan satu lagi, khas banget gaya penulisannya ... kholis banget .....
 
Joomlart