AKU DAN KABUT DI MATAMU
Dingin
Beku
Berkabut
Sendu
Kutatap lekat dua mata itu,
Aku hanya mau tahu, apakah tlah benar-benar hilang asamu?
Katakan apa yang bisa aku lakukan, untuk mengurangi muram-mu itu?
Sungguh ingin kulihat senyummu.
Agar malam nanti aku lelap mengukir mimpi,
Agar esok hari tatapanmu tak membuatku menahan perih.
Kau tak pernah perhatikanku yang tlah enam bulan memperhatikanmu
Dan baru kali itu kuberanikan jiwaku menyapa jiwamu
Kuberanikan bertanya namamu
Kuberanikan mendekat dan menatap bening matamu yang tertutup kabut
Dan seminggu lalu kau masih di situ..
Maaf bila ku tak menyapamu.
Karena kau tertidur di samping gelas plastik kumalmu.
Iya, benar kata penulis itu..
Fakta memang terkadang bisa lebih aneh ketimbang fiksi sekali pun
Kau hanyalah satu dari beribu-ribu..
Dan apa dayaku
Bahkan aku merasa lebih kecil dibanding anak berusia tujuh tahun sepertimu..
Yang tiap pagi kau sempat menuntut ilmu, dan di sore hari berada di lorong itu demi ibumu…
Namun sejujurnya aku malu padamu.
Aku malu karena tlah berhari-hari mengeluh
Mengeluh kepiluanku yang bahkan mungkin tak seberapa dibanding perihmu
Aku malu karena terpuruk oleh sembilu yang tak seberapa dibanding semua hal indah untukku
Aku malu, aku malu….
Namun demi detik ini
Aku akan bangun, melihat cermin yang memperjelas kerapuhanku, mencuci mukaku, dan minta ampun pada Penciptaku.
Agar dikuatkan langkahku
Agar disampaikan usiaku, hingga mampu kudengar sayup sahur yang sebentar lagi kita jemput.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Aku dan Kabut di Matamu **)




































